JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menanggapi kecemasan terkait efek konflik geopolitik di Timur Tengah pada bisnis asuransi marine cargo di dalam negeri.
Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono memaparkan bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah, seperti gejolak di kawasan Selat Hormuz, memicu pengaruh terhadap profil risiko sektor marine cargo.
“Namun OJK belum melihat adanya indikasi bahwa perusahaan asuransi di Indonesia secara umum menghentikan pemberian pertanggungan atas pengiriman melalui kawasan tersebut,” tulisnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Selasa (28/7/2026).
Ogi memaparkan bahwa pelaku industri asuransi biasanya bakal mengambil langkah penyesuaian yang berpijak pada hasil penilaian risiko atau risk assessment.
Langkah mitigasi tersebut mencakup perubahan pada syarat serta ketentuan polis, nilai premi, sampai skema reasuransi yang memprioritaskan asas kehati-hatian.
Jika ditinjau dari portofolio, Ogi menyebutkan bahwa sektor marine cargo pada perusahaan asuransi dalam negeri mayoritas masih disokong oleh perputaran dagang domestik serta regional.
Oleh sebab itu, imbas langsung dari pergolakan di Timur Tengah bagi industri secara agregat dinilai masih minim.
Mengacu pada data industri, perolehan premi bruto pada lini usaha marine cargo menyentuh angka berkisar Rp1,97 triliun per Mei 2026. Angka pencapaian tersebut menyusut 7,36% jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Di lain sisi, tren positif nilai ekspor Indonesia selama kurun waktu Januari-Mei 2026 diproyeksikan mampu mendongkrak pasar produk asuransi berbasis perdagangan, contohnya marine cargo insurance serta trade credit insurance.
Kendati demikian, Ogi mewanti-wanti bahwa capaian dari kedua lini usaha tersebut tidak hanya bertumpu pada skala volume perdagangan belaka.
Variabel lain berupa situasi ekonomi dunia, tensi geopolitik, kualitas kredit dari pelaku bisnis, hingga dinamika logistik global turut memegang peranan penting.
“OJK mendorong perusahaan asuransi untuk tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam melakukan underwriting, didukung dengan kecukupan reasuransi dan manajemen risiko yang memadai,” terangnya.
Ogi mengimbuhkan bahwa peluang ekspansi dari kedua sektor usaha ini diprediksi tetap cerah sejalan dengan naiknya intensitas perdagangan.
Namun, ia mewanti-wanti agar perusahaan asuransi terus memantau fluktuasi risiko global yang berpotensi memengaruhi laju industri ke depannya.