SEP Triputra Group Tambah 8 CEC Perkuat Rantai Pasok Jagung

Selasa, 28 Juli 2026 | 02:37:31 WIB
PT Sumber Energi Pangan (SEP), entitas bisnis di bawah naungan Triputra Group. (Foto: NET)

JAKARTA - PT Sumber Energi Pangan (SEP), entitas bisnis di bawah naungan Triputra Group, memperlebar jangkauan program pendampingan budidaya jagung lewat penambahan delapan Crop Edu Center (CEC) sepanjang periode Mei sampai Juni 2026. 

Langkah ekspansi pusat edukasi ini menyasar Kabupaten Dompu dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Kabupaten Gorontalo, Gorontalo Utara, dan Boalemo di Provinsi Gorontalo.

Melalui penambahan tersebut, kini SEP telah mengoperasikan 13 CEC sejak program pertama kali diresmikan pada akhir tahun 2024. 

Secara keseluruhan, kurang lebih 2.800 petani telah dilibatkan dalam program ini dengan total area lahan yang terdampak berkisar antara 4.000 hingga 5.000 hektare. 

Khusus untuk delapan CEC baru yang diinisiasi pada Mei-Juni tahun ini, pihak perusahaan merangkul 323 petani dengan cakupan area pendampingan berkisar 500 hektare.

Sustainability & Partnership Department Head PT Sumber Energi Pangan, Wesly Altie Hasibuan mengungkapkan bahwa upaya menaikkan produktivitas jagung tidak dapat bertumpu pada penyediaan sarana produksi semata. 

Para petani juga memerlukan bimbingan yang konsisten serta kepastian akses menuju pasar.

"Peningkatan produktivitas tidak dapat dicapai hanya melalui penyediaan sarana produksi. Dibutuhkan ekosistem yang mampu mendampingi petani dari belajar, praktik, hingga kepastian pemasaran," kata Wesly dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).

Skema pendampingan ini mengintegrasikan implementasi Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP), pembuatan percontohan lahan (demplot), serta monitoring dan evaluasi area pertanian secara berkala. 

Proses bimbingan berjalan secara menyeluruh, dimulai dari tahapan pengolahan lahan, pemilihan benih yang berkualitas, sistem pemupukan yang seimbang, penanganan organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga fase pemanenan dan penanganan pascapanen.

Berdasarkan data internal perusahaan, inisiatif ini sukses mendongkrak pemahaman teknis pertanian para peserta hingga 46% setelah mereka memperoleh pelatihan GAP dan GHP yang dikombinasikan dengan pendampingan langsung di lapangan.

Di samping itu, SEP juga mengimplementasikan skema inclusive closed-loop system yang mengoneksikan para petani dengan pihak birokrasi, tenaga penyuluh, korporasi, institusi keuangan, sampai dengan penyerap hasil panen (offtaker). 

Pola kemitraan ini difungsikan untuk memperkokoh rantai pasok sekaligus membuka jaminan serapan pasar bagi komoditas yang dihasilkan petani.

"Melalui Crop Edu Center, kami membangun model kemitraan yang memungkinkan seluruh rantai nilai pertanian bekerja secara terintegrasi sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani," ujar Wesly.

Dalam merealisasikan program tersebut, SEP menjalin kolaborasi dengan sederet perusahaan serta lembaga nirlaba guna memfasilitasi alih teknologi serta pembekalan kompetensi petani. 

Beberapa mitra yang terlibat antara lain Saprotan Utama, Syngenta, Bayer, Cargill, Save the Children, dan Cis Timor.

Sales Executive PT Syngenta Indonesia, Teguh Maynurrobi berpendapat bahwa platform pembelajaran ini dapat berfungsi sebagai akselerator dalam mempercepat penyerapan teknologi baru serta pemanfaatan benih bermutu di kalangan petani.

"Melalui edukasi, demonstrasi teknologi, dan pendampingan lapangan, petani bisa menerapkan budidaya dengan benih berkualitas," kata Teguh.

Bukan sekadar memacu volume produksi, manajemen perusahaan menilai sistem pendampingan terpadu ini mampu memperkuat stabilitas pasokan jagung yang berkelanjutan bagi para offtaker. 

Dari sudut pandang petani, akses terhadap ketersediaan input pertanian, modal usaha, inovasi teknologi, serta saluran pemasaran diharapkan menjadi semakin terbuka lebar.

Ke depan, SEP berkomitmen untuk terus menambah titik CEC di berbagai daerah lainnya. 

Perusahaan menargetkan perluasan pusat edukasi lapangan ini mampu menstimulasi percepatan adopsi teknologi pertanian sekaligus menyokong ketahanan serta peningkatan produktivitas jagung di skala nasional.

Terkini