JAKARTA — Persaingan di pasar ponsel pintar Indonesia diprediksi bakal semakin mengarah pada segmen premium. Langkah ini diambil di tengah tekanan depresiasi mata uang rupiah serta lonjakan harga komponen dasar, khususnya memori.
Situasi tersebut membikin margin keuntungan pada kategori entry-level kian tergerus, sehingga memicu para produsen untuk mengubah strategi bisnis mereka menuju gawai berharga lebih tinggi yang menjanjikan keuntungan lebih menjanjikan.
Menurut Direktur ICT Institute, Heru Sutadi, peta kompetisi ponsel pintar di tanah air saat ini tengah bertransformasi.
Ia menjelaskan bahwa fokus utama para produsen tidak lagi sekadar mengejar kuantitas penjualan, melainkan mendongkrak nilai pasar lewat penetrasi gawai yang dibekali fitur-fitur mutakhir.
“Produsen melihat konsumen makin bersedia membayar lebih untuk fitur AI, kamera, performa, dan pengalaman penggunaan yang lebih baik. Meski segmen entry-level tetap besar, persaingan di kelas premium akan makin ketat karena margin keuntungannya lebih tinggi dan menjadi pintu masuk membangun loyalitas terhadap ekosistem perangkat,” ujar Heru.
Ia pun menambahkan bahwa tekanan bagi para produsen yang selama ini bertumpu pada segmen bawah kian terlihat nyata. Lonjakan harga suku cadang, pelemahan mata uang rupiah, serta ketidakpastian rantai pasok global mengakibatkan keuntungan di kelas bawah terus menyusut.
Menyikapi hal tersebut, banyak vendor mulai meningkatkan standar spesifikasi gawai mereka sekaligus memperlebar lini produk ke segmen menengah dan premium.
Walau demikian, ia menilai korporasi tetap wajib mempertahankan varian produk dengan harga terjangkau lantaran mayoritas pembeli di Indonesia masih sangat sensitif terhadap harga. Langkah yang krusial saat ini adalah menjaga keseimbangan antara volume penjualan dan tingkat profitabilitas.
Heru berpandangan bahwa perebutan pasar ke depan tidak cuma bertumpu pada aspek harga.
Produsen yang sanggup menyajikan inovasi kecerdasan buatan (AI), ekosistem gawai yang saling terintegrasi, kualitas kamera prima, kinerja tinggi, serta layanan purnajual yang andal diproyeksikan akan lebih unggul dalam menguasai pasar kelas atas.
“Ke depannya, harga tetap penting, tetapi bukan lagi satu-satunya penentu. Konsumen premium membeli pengalaman, bukan hanya spesifikasi. Karena itu, produsen yang memiliki integrasi AI yang matang, pembaruan perangkat lunak jangka panjang, serta ekosistem yang saling terhubung akan memiliki peluang lebih besar memimpin pasar,” sebut Heru.
Pada kesempatan berbeda, Associate Market Analyst, Client Devices Research IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, mengungkapkan bahwa kelangkaan memori memberikan tekanan berat bagi seluruh industri ponsel pintar.
Kendati demikian, hantaman paling keras dirasakan oleh produk berharga di bawah US$200 atau berkisar Rp3,6 juta sebab memiliki margin keuntungan yang paling tipis.
Vanessa menuturkan bahwa para vendor gawai sudah berulang kali mengerek harga jual sejak triwulan pertama tahun 2026 di seluruh kategori harga.
Tren kenaikan ini diprediksi masih akan berlanjut sampai tahun 2027 mendatang, mengingat kondisi perekonomian yang belum pulih seutuhnya serta melemahnya daya beli masyarakat.
“Kondisi tersebut menjadi perhatian karena terjadi di tengah situasi ekonomi yang masih menantang dan melemahnya daya beli konsumen,” tutur Vanessa.
Vanessa memproyeksikan lonjakan harga di semua lini ini bakal membuat pasar ponsel pintar di Indonesia merosot hingga dua digit di sepanjang tahun 2026.
Meskipun begitu, segmen premium dengan harga di atas US$600 atau sekitar Rp10,8 juta diperkirakan bakal lebih tangguh bertahan ketimbang kondisi pasar secara umum.
Ia juga melihat semakin banyak vendor yang mulai mengekspansi lini produk kelas atas mereka, setelah sebelumnya lebih banyak fokus pada gawai murah yang mengandalkan kuantitas penjualan yang masif.
Sementara itu, Head of Public Relations HONOR Indonesia, Aryo Meidianto Aji, mengemukakan bahwa pelemahan rupiah serta kenaikan biaya komponen tidak membawa pengaruh signifikan terhadap strategi harga di perusahaannya.
Ia mengklaim HONOR mampu mempertahankan stabilitas harga lewat perencanaan stok serta tata kelola inventaris yang dihitung secara akurat sejak awal.
“Dengan kalkulasi yang presisi, kami menghindari produksi ulang, yang secara otomatis melindungi harga jual dari fluktuasi kurs. Dalam strategi bisnis kami bertujuan untuk memperkuat fondasi kami dengan perencanaan yang matang, optimalisasi rantai pasok, dan disiplin dalam manajemen inventaris,” jelas Aryo.
Aryo menegaskan bahwa HONOR tetap berkomitmen mempertahankan fokus mereka di segmen bawah dan menengah karena wilayah tersebut masih menjadi basis pembeli terbesar di Indonesia.
Oleh sebab itu, korporasi memilih untuk menyajikan portofolio produk yang seimbang di seluruh tingkatan harga.
Ia memaparkan lebih lanjut bahwa strategi bisnis HONOR ditopang oleh tiga pilar utama, yakni portofolio produk, jalur distribusi, serta kedekatan dengan para konsumen.
Pada segmen premium, perusahaan menempatkan diri sebagai penantang dengan menyuguhkan spesifikasi tinggi namun pada harga yang lebih kompetitif.
Sedangkan untuk segmen entry-level dan menengah, HONOR tetap mempertahankan agar harga gawai tetap kompetitif walau tengah terjadi kelangkaan memori.
Aryo menambahkan bahwa pihak korporasi juga terus memperluas jaringan pemasaran mereka melalui toko luring, platform daring, hingga kolaborasi dengan para mitra ritel demi menjangkau lebih banyak pembeli.
Pada segmen flagship, ia menilai HONOR tidak menggunakan cara-cara konvensional. Perusahaan menyajikan kombinasi gawai berspesifikasi terbaik, namun dengan banderol harga yang lebih rendah daripada kompetitor langsungnya.
Langkah ini dipandang sebagai strategi jitu guna merebut pasar premium yang kian sensitif terhadap nilai produk.
Aryo juga melihat penikmat gawai di Indonesia sekarang ini semakin rasional, di mana mereka senantiasa mencari value per price yang paling optimal.
“Pada intinya, strategi kami adalah bermain di semua segmen dengan pendekatan yang berbeda, di flagship kami jadi challenger dengan value terbaik, di entry-level kami jadi defender dengan harga stabil, dan di semua lini kami mengedepankan perencanaan yang matang serta mengedepankan kedekatan dengan konsumen,” pungkas Aryo.