Tips Stimulasi Anak Cerdas: Hindari Gadget dan Belajar Dini

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:59:01 WIB
Ilustrasi - Seorang anak yang sedang belajar. (Foto: NET)

JAKARTA - Memberikan gawai kerap menjadi solusi instan bagi para orang tua zaman sekarang ketika menghadapi anak yang rewel atau terlampau aktif. 

Padahal, kebiasaan memperlihatkan tontonan digital pada usia dini memiliki konsekuensi buruk bagi perkembangan sistem kognitif anak. 

Dokter spesialis anak, dr. Yoga Andika, Sp.A, menegaskan bahwa ada aturan penggunaan gawai yang sangat ketat demi memelihara tumbuh kembang saraf anak.

"Anjurannya layar hanya boleh di atas dua tahun. Di bawah dua tahun tidak boleh karena otak lagi berkembang sangat pesat," terang dr. Yoga di acara edukatif imersif "S-26 Exceptional Journey: Journey Inside the Brain", Senayan City Mall, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Interaksi dengan gawai atau screen time pada usia batita dapat memicu paparan cahaya yang sangat terang pada indera penglihatan anak. Secara medis, situasi ini mengakibatkan rentang konsentrasi sang buah hati menjadi sangat pendek.

"Dia melihat cahaya terlalu banyak sehingga fokusnya menjadi pendek. Saat dia menjadi pendek, dia menjadi overstimulasi lihat yang terlalu besar, sehingga akan berdampak ke sensorik yang lain," papar dr. Yoga.

Turunnya kemampuan fokus ini memicu dampak domino pada kecakapan sensorik serta motorik tubuh secara menyeluruh. 

Salah satu dampak yang jarang disadari orang tua yaitu terganggunya sistem proprioseptif, yang merupakan kemampuan alami tubuh untuk merasakan posisi dan pergerakan sendi.

"Anaknya menjadi tidak bisa fokus dengan baik karena stimulasinya terlalu banyak. Dan anak menjadi lebih banyak bergerak karena proprioseptifnya jadi terganggu," terang dr. Yoga.

Oleh karena itu, menjauhkan anak dari paparan gawai menjadi langkah preventif yang krusial agar seluruh sistem kognitif anak dapat berproses dengan optimal.

Di sisi lain, ambisi keluarga untuk membentuk anak berprestasi terkadang memicu pemberian beban akademis yang terlampau berat di usia balita. 

Padahal, fase kehidupan anak pada rentang umur tersebut idealnya dipenuhi oleh aktivitas fisik dan kesenangan. Dokter Yoga menyarankan agar waktu anak balita sepenuhnya digunakan untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar secara rileks tanpa paksaan edukasi formal.

"Kalau di usia dua sampai lima tahun, itu dua sampai tiga tahun itu dominasinya sebaiknya bermain saja. Nah, saat di atas tiga tahun baru kami bisa ngajarin hal-hal yang sifatnya pembelajaran," jelas dr. Yoga.

Jika anak dipaksa mengikuti kurikulum yang kaku terlalu cepat, ada konsekuensi merugikan yang harus ditanggung saat ia dewasa. Daya kreativitas anak berpotensi meredup karena hilangnya masa-masa berharga di masa kecil mereka.

"Karena kalau dia belajar terlalu cepat tadi, dunia anaknya hilang terlalu cepat. Efeknya, anak menjadi tidak bisa menikmati dunia dia dengan baik, sehingga saat dia dewasa dia kreativitasnya akan jadi lebih tumpul," ungkap dr. Yoga.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara edukasi dan waktu santai dalam agenda harian sang buah hati.

"Sehingga kalau kami mau mengasuh anak kami dan menstimulasi dengan baik, bermain dan belajarnya harus seimbang," imbuhnya.

Guna mewujudkan pola asuh yang seimbang tersebut, orang tua rupanya bisa menerapkan metode yang sangat sederhana. 

Ayah dan ibu tidak perlu menyusun agenda harian yang rumit hingga menguras banyak tenaga. Sebaliknya, stimulasi logika dapat disisipkan lewat aktivitas pemecahan masalah berdurasi singkat di rumah.

"Stimulasi paling sederhana adalah berikan satu mainan, satu waktu, dalam waktu lima belas menit. Dan nantinya anak akan belajar untuk pemecahan masalah," dokter Yoga berujar.

Waktu yang fokus tersebut dinilai jauh lebih efektif untuk membentuk memori anak. Orang tua bisa memakai alat bantu interaktif seperti balok susun Lego, atau sekadar membacakan dongeng bersama di kamar.

"Contoh kayak latihan nyusun Lego, naruh-naruh ke tempat tertentu, atau membaca buku, atau bernyanyi," tambah dr. Yoga.

Prinsip utama dari stimulasi ini adalah memberikan ruang yang tenang bagi saraf anak untuk menyerap satu jenis instruksi pada satu waktu, sehingga kemampuan berpikir terstruktur dapat terbentuk secara alami.

"Sifatnya yang anak menikmati prosesnya, dan menikmati momennya. Itulah sebabnya satu kegiatan, satu waktu, supaya dia bisa fokus dengan baik, sehingga kemampuan berpikir dan pemecahan masalahnya juga berkembang dengan baik," pungkas dr. Yoga.

Terkini