DMAS Kejar Pendapatan Berulang Rp400 Miliar Demi Tekan Ketergantungan

DMAS Kejar Pendapatan Berulang Rp400 Miliar Demi Tekan Ketergantungan
Ilustrasi kawasan industri [FOTO: NET].

JAKARTA — Perusahaan properti milik grup Sinar Mas, PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) mulai menggenjot porsi pendapatan berulang (recurring income) sebagai taktik memangkas ketergantungan pada transaksi penjualan lahan industri. 

Perseroan mematok recurring income sanggup menyentuh kisaran Rp300 miliar–Rp400 miliar pada 2026 sekaligus mempertahankan laju pertumbuhan sekitar 25%–30% tiap tahunnya.

Direktur PT Puradelta Lestari Tbk. Tondy Suwanto menyampaikan bahwa optimalisasi recurring income menjadi bagian krusial dari skema jangka panjang perseroan, terutamanya di tengah kian terbatasnya persediaan lahan industri di area Kota Deltamas.

“Kami melihat recurring income pada tahun ini mencapai sekitar Rp300 miliar sampai Rp400 miliar dalam perhitungan dan budgeting kami,” ujar Tondi dalam paparan publik, Senin (7/9/2026).

Tondy tak menampik bahwa tantangan terbesar yang membayangi DMAS saat ini bersumber dari keterbatasan cadangan lahan (land bank). Perseroan mengakui dalam kurun beberapa tahun belakangan volume penjualan lahan berada di atas angka penambahan lahan baru.

Tercatat kepemilikan land bank DMAS per 30 Juni 2026 berada di kisaran 581 hektare. Rinciannya meliputi 60 hektare lahan industri, kawasan komersial seluas 357 hektare, serta area residensial mencakup 164 hektare.

Menurut pandangannya, besaran angka tersebut sejatinya sudah tergolong masif, tetapi perseroan tetap akan memacu kenaikan porsi recurring income. DMAS menetapkan sasaran recurring income dapat bertumbuh sekitar 25%–30% pada tiap tahunnya.

Hingga kini Tondy menerangkan bahwa fondasi pendapatan berulang yang terbentuk saat ini sudah mampu menutupi seluruh kebutuhan beban operasional perusahaan.

“Dengan recurring income yang sudah tercapai saat ini, sebenarnya seluruh OPEX sudah bisa kami cover,” katanya.

Pilar utama penghasil recurring income DMAS bersumber dari penyediaan fasilitas utilitas serta infrastruktur bagi para penyewa (tenant) di kawasan industri Kota Deltamas, meliputi pasokan daya listrik dan air. Kebutuhan fasilitas utilitas tersebut berpotensi makin melonjak seiring masuknya tenant data center yang mengonsumsi daya listrik dan pasokan air jauh lebih tinggi dibandingkan sektor industri konvensional.

Saat ini DMAS mengantongi kapasitas listrik terpasang sekitar 1.000 MVA. Manajemen menilai kapasitas itu masih mencukupi kebutuhan operasional tenant yang ada, termasuk sektor data center. Kendati demikian, perseroan memproyeksikan konsumsi listrik bakal terus merambat naik dan kapasitas 1.000 MVA diperkirakan tak lagi memadai hingga kurun 2035.

Maka dari itu, DMAS terus berkoordinasi secara intensif dengan pihak PLN demi mengantisipasi lonjakan kebutuhan pasokan daya listrik jangka panjang. DMAS juga telah memfasilitasi kawasan dengan water treatment plant, wastewater treatment plant, hingga recycle water treatment plant.

Langkah strategis tersebut diiringi dengan capaian kinerja DMAS yang mengukir pertumbuhan pesat pada semester I/2026. Merujuk pada materi paparan publik, nilai pendapatan DMAS per 30 Juni 2026 menembus Rp1,8 triliun, melesat dibandingkan perolehan Rp613 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perolehan laba bruto melonjak menuju Rp1,28 triliun dari semula Rp430 miliar, sedangkan laba bersih terkerek ke level Rp1,1 triliun, naik dari posisi Rp433 miliar pada semester I/2025. Dengan begitu, margin laba bruto terangkat ke posisi kisaran 70,8%, sementara margin laba bersih menyentuh level 60,7%.

Segmen industri masih menjadi penopang pendapatan paling dominan. Perolehan dari segmen ini mencapai Rp1,75 triliun, melonjak tajam dibanding kurun semester I/2025 senilai Rp553 miliar. Di lain sisi, pendapatan residensial tercatat sebesar Rp19 miliar, komersial Rp18 miliar, hotel Rp8,1 miliar, serta sewa (rental) sebesar Rp9,5 miliar.

Segmen rental turut memperlihatkan tren positif dari Rp8,3 miliar pada semester I/2025 menjadi Rp9,5 miliar pada semester I/2026. Kendati porsinya masih terbilang kecil, kenaikan ini menunjukkan hadirnya variasi pundi-pundi pendapatan di luar transaksi penjualan lahan.

Tondy menilai ketahanan posisi keuangan yang solid turut memberi ruang gerak untuk memburu laju pertumbuhan pada semester II/2026. Per Juni 2026, akumulasi kas dan setara kas DMAS berada di angka kisaran Rp2,09 triliun dan perseroan bersih dari pinjaman keuangan.

 Menurutnya kondisi net cash ini menyajikan fleksibilitas bagi DMAS untuk terus membangun infrastruktur maupun mengeksekusi akuisisi lahan bila mendapati peluang yang pas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index