Studi Buktikan Pria Lebih Cepat Jatuh Cinta Ketimbang Wanita

Studi Buktikan Pria Lebih Cepat Jatuh Cinta Ketimbang Wanita
Ilustrasi - Pasangan. (Foto: NET)

JAKARTA — Saat Anda sedang dalam masa pendekatan, debaran jantung merupakan hal yang lazim dirasakan. Sensasi mabuk kepayang ini kerap mengganggu konsentrasi serta membuat pikiran terus melayang. 

Namun, siapa sebenarnya pihak yang lebih dahulu terhanyut dalam gelora tersebut? Faktanya, anggapan bahwa kaum hawa jauh lebih mudah luluh ternyata keliru. 

Sebuah riset membuktikan bahwa prialah yang cenderung lebih cepat merasakan benih-benih asmara dibandingkan para wanita.

"Studi ini mencakup 33 negara berbeda di Eropa, Amerika Utara, dan Afrika Selatan," ujar antropolog biologi dari Australian National University (ANU) Adam Bode, melansir Science Alert, Minggu (30/8/2026). 

"Kami sangat tertarik untuk melihat apakah jenis kelamin biologis memengaruhi kemunculan, perkembangan, dan ekspresi dari cinta romantis," tambahnya.

Penelitian berjudul "Sex differences in romantic love: an evolutionary perspective" ini diterbitkan pada Februari 2025 melalui jurnal Biology of Sex Differences. Tim ilmuwan gabungan asal Australia serta Selandia Baru tersebut meneliti data survei dari 808 orang dewasa muda berusia 18 sampai 25 tahun. 

Seluruh partisipan secara sadar mengakui bahwa mereka sedang berada dalam fase jatuh cinta. Pertanyaan dalam survei dirancang secara mendalam untuk menggali rentang waktu seseorang mulai terpikat, besarnya intensitas gejolak emosi, frekuensi jatuh cinta di masa lalu, hingga tingkat obsesi terhadap pasangan masing-masing.

Setelah mengolah data statistik, para peneliti mendapati bahwa kaum pria rata-rata mendahului wanita dalam hal jatuh cinta dengan selisih waktu sekitar satu bulan. 

Para ahli memperkirakan fenomena ini dipicu oleh insting bawaan di mana kaum adam merasa memikul tanggung jawab menunjukkan komitmen lebih dini sebagai strategi memikat pasangan.

Tidak hanya unggul dalam kecepatan, frekuensi pria mengalami mabuk asmara pun sedikit di atas wanita. Bahkan, kaum pria berpotensi besar jatuh cinta jauh sebelum hubungan mereka mempunyai status resmi. 

Sebanyak 30 persen peserta pria melaporkan pengalaman romantis tersebut, berbanding terbalik secara signifikan dengan peserta wanita yang persentasenya tidak sampai 20 persen.

Kendati pria lebih unggul perihal kecepatan serta frekuensi menambatkan hati, hasil studi menunjukkan bahwa mereka perlahan menjadi sedikit kurang berkomitmen ketika hubungan sudah berjalan. 

Sebaliknya, pihak wanita justru memperlihatkan keterikatan afeksi emosional yang jauh lebih kuat. Kaum hawa cenderung menghabiskan porsi waktu lebih banyak setiap harinya hanya untuk memikirkan pasangannya secara mendalam. 

Singkatnya, wanita mempunyai kedalaman cinta serta letupan perasaan yang kondisinya lebih menggebu-gebu saat dimabuk asmara.

"Ini adalah studi pertama yang menyelidiki perbedaan antara wanita dan pria yang mengalami cinta, menggunakan sampel lintas budaya yang relatif besar," tutur Bode. 

"Ini adalah bukti meyakinkan pertama bahwa wanita dan pria memang berbeda dalam beberapa aspek cinta romantis," jelasnya merinci penemuan tersebut.

Tim periset juga memperhitungkan variabel tambahan seperti faktor usia partisipan hingga rasio populasi pria dan wanita di masing-masing negara. Setelah variabel ini diperhitungkan secara saksama, sebagian besar perbedaan tetap bertahan secara konsisten, meski perbedaan spesifik mengenai tingkat komitmen akhirnya memudar dan setara.

Temuan menarik lainnya berkaitan dengan isu kesetaraan gender. Masyarakat di negara dengan tingkat kesetaraan gender tinggi justru terbukti lebih jarang jatuh cinta. 

Kelompok ini memperlihatkan tingkat komitmen yang cenderung lebih rendah serta kurang begitu terobsesi kepada pasangan. Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa norma sosial di lingkungan sekitar turut memegang andil besar dalam membentuk cara seseorang merasakan cinta.

Lepas dari besarnya tekanan evolusi manusia untuk mencari pasangan serta menjaga kelangsungan spesies, pengaruh dinamika sosial tersebut merupakan subjek yang ingin dieksplorasi lebih mendalam oleh para ahli di masa mendatang. 

"Cinta ini sangat kurang diteliti jika mengingat betapa pentingnya hal itu dalam pembentukan keluarga dan hubungan percintaan. Kami ingin membantu orang-orang memahaminya," pungkas Bode.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index