JAKARTA - Saat membina jalinan asmara, daya tarik serta chemistry kerap kali menjadi fokus utama yang disoroti. Walau begitu, faktor ketertarikan semata tidak serta-merta menjamin sebuah ikatan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Seiring berjalannya waktu, setiap pasangan akan dihadapkan pada pelbagai keputusan krusial, mulai dari tata kelola finansial, arah karier, penentuan tempat tinggal, hingga komitmen mengasuh anak. Di samping itu, mereka tidak akan selalu sependapat dalam menyikapi tiap permasalahan. Atas dasar tersebut, jalinan ikatan yang sehat memerlukan fondasi yang lebih kokoh ketimbang perasaan cinta semata.
Disadur dari Psychology Today, psikolog Mark Travers, PhD, membeberkan indikator yang dapat menjadi tolok ukur apakah suatu pasangan mempunyai landasan kuat untuk hubungan jangka panjang. Dua di antaranya berhubungan dengan keselarasan nilai hidup serta kesiapan memulihkan ikatan pascadilewati konflik.
Tanda hubungan bertahan lama menurut psikolog
1. Memiliki tujuan dan nilai hidup yang sejalan Kesamaan di antara pasangan tidak melandaskan pada kegemaran musik, sinema, atau hobi yang identik. Menurut Travers, aspek yang jauh lebih esensial justru keselarasan pada ranah prinsipil yang berkaitan dengan kehidupan bersama.
Contohnya seperti prinsip mengenai pernikahan, momongan, keuangan, pekerjaan, domisili, relasi dengan keluarga besar, hingga pembagian peran dalam merawat anggota keluarga. Saat pasangan memegang arah tujuan hidup yang sejajar, proses pengambilan keputusan dan pencapaian kompromi dapat berjalan lebih mulus lantaran keduanya melangkah menuju titik yang relatif sama.
Sebaliknya, perbedaan prinsipil dalam arah hidup berisiko menjadi muara konflik yang berulang. Sebagai gambaran, satu pihak menghendaki menetap dekat dengan keluarga, sementara pihak lainnya berkeinginan terus berpindah lokasi dan menjalani gaya hidup dinamis. Kedua aspirasi tersebut tidaklah salah. Namun, bilamana keinginan itu sulit dijembatani, hubungan tersebut akan dihadapkan pada persoalan yang jauh lebih kompleks ketimbang sekadar perbedaan selera atau hobi.
Hal tersebut selaras dengan studi yang dipublikasikan pada jurnal Personality and Individual Differences tahun 2023. Penelitian terhadap 189 pasangan muda yang berpacaran di Hong Kong tersebut menemukan adanya korelasi antara karakteristik kepribadian serta nilai tertentu dengan tingkat kepuasan dalam hubungan.
Beberapa hal penting yang dapat didiskusikan sejak awal mencakup: rencana pernikahan dan momongan; prioritas karier; mekanisme pengelolaan dan alokasi dana; pilihan domisili; hubungan dengan keluarga besar; serta pembagian tanggung jawab dalam merawat anak atau anggota keluarga yang memerlukan bantuan.
2. Mau menerima upaya untuk memperbaiki konflik Tidak ada ikatan asmara yang luput dari perselisihan. Silang pendapat merupakan dinamika yang wajar dalam sebuah hubungan. Pembeda utama antara jalinan yang sehat dan tidak sehat terletak pada cara pasangan menyikapi dinamika konflik tersebut serta kemampuannya untuk kembali terhubung pascapertengkaran.
Travers mengaplikasikan konsep repair attempts atau langkah memulihkan ikatan saat perselisihan mulai memanas. Bentuknya dapat berupa tindakan sederhana, seperti menyampaikan permohonan maaf, menata nada bicara, memohon jeda sejenak, mengekspresikan empati, atau mencoba mencairkan suasana.
Sebagai contoh, seseorang mengutarakan, “Maaf, tadi cara bicaraku terlalu keras. Kita coba ngomong lagi dengan tenang.”
Respons pasangan terhadap inisiatif semacam ini memegang peranan krusial. Pihak yang terbuka menyambut upaya perbaikan tersebut sanggup meredam pergesekan sebelum dampak konflik kian meluas.
Studi yang disusun oleh John Gottman, Janice Driver, dan Amber Tabares yang diterbitkan dalam Journal of Family Psychotherapy pada 2015 turut memaparkan pentingnya inisiatif pemulihan hubungan selama konflik berlangsung pada pasangan yang baru menikah. Riset tersebut mengungkapkan bahwa upaya perbaikan, utamanya yang diterapkan sebelum eskalasi konflik memuncak, terbukti membantu menekan emosi negatif serta merajut kembali ikatan positif di tengah pertengkaran.
Oleh karena itu, poin yang patut diperhatikan bukan sekadar intensitas pertengkaran pasangan, melainkan kesiapan kedua belah pihak untuk kembali berdialog dan menata kembali ikatan pascaperselisihan.