JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan pada pembukaan perdagangan Kamis (27/8/2026). Depresiasi rupiah ini utamanya terimbas oleh penguatan indeks dolar AS serta lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS jangka pendek.
Berdasarkan data perdagangan pagi ini, rupiah melorot 50 poin atau 0,28% ke posisi Rp17.775 per dolar AS, apabila dibandingkan dengan posisi penutupan sesi sebelumnya sebesar Rp17.725 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menjelaskan bahwa tekanan pada rupiah tak lepas dari pergerakan indeks dolar AS dan yield obligasi pemerintah AS yang merangkak naik.
“Indeks dolar naik 0, 25 persen menjadi 99,11, sementara obligasi pemerintah AS 1 dan 5 tahun naik masing-masing 5,9 basis points (bps) dan 3,3 bps menjadi 6,74 persen dan 6,89 persen sebagai antisipasi kenaikan suku bunga oleh The Fed di akhir tahun ini,” ucapnya, Kamis (27/8/2026).
Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed
Di samping lonjakan dolar AS, para pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menantikan pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8). Pidato tersebut menjadi sorotan utama karena diproyeksikan memberikan indikasi terkait kondisi inflasi AS sekaligus rute kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Di sisi lain, pergerakan inflasi berpatokan pada Personal Consumption Expenditures (PCE) AS mulai memperlihatkan perlambatan, kendati angkanya masih berada di atas target bank sentral.
Indikator Personal Consumption Expenditures (PCE) AS melandai ke tingkat 3,3 persen, namun masih terhitung jauh dari target inflasi sebesar 2 persen. Kondisi ini membuat pelaku pasar terus memperhitungkan potensi penyesuaian suku bunga acuan The Fed hingga pengujung tahun.
Ekspektasi suku bunga AS tersebut menjadi salah satu katalis utama yang memengaruhi pergerakan dolar dan mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah.
Aksi Demonstrasi Jadi Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, rupiah mendapat tekanan dari situasi sosial dan politik yang berkembang hari ini. Rully mengungkapkan bahwa laju rupiah turut terpengaruh oleh aksi unjuk rasa yang berlangsung pada Kamis (27/8).
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) melangsungkan aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Jakarta. Aksi tersebut menyuarakan dua tuntutan utama, yaitu mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset serta pemberlakuan hukuman mati bagi pelaku korupsi.
Dynamic domestik ini disimak oleh pasar lantaran stabilitas politik dan keamanan dapat berdampak pada penilaian risiko investor terhadap pasar keuangan nasional.
Pasar Perhatikan Arah Kebijakan BI
Selain faktor eksternal dan dinamika aksi demonstrasi, pasar juga mencermati koridor kebijakan Bank Indonesia (BI) di bawah jajaran Dewan Gubernur BI yang baru. Menurut Rully, arah kebijakan bank sentral bakal tetap menjadi salah satu elemen penting bagi pergerakan rupiah ke depan.
“Arah kebijakan BI masih mengusung independensi dan ditambah sinergi dengan pemerintah untuk menciptakan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi,” kata Rully.
Dengan demikian, koreksi rupiah pada Kamis (27/8) tidak melulu bersumber dari faktor dalam negeri. Penguatan dolar AS, lonjakan yield Treasury jangka pendek, proyeksi suku bunga The Fed, hingga sentimen domestik saling berkombinasi membebani rupiah pada awal perdagangan hari ini.