JAKARTA - Memalingkan pandangan saat berbincang bersama individu lain ternyata tidak selamanya mengindikasikan rasa malu ataupun minimnya kepercayaan diri.
Bagi sebagian kalangan, menjauhi tatapan mata justru menjadi metode guna meredakan rasa tidak nyaman, mempertahankan fokus, ataupun mengelola kecemasan yang timbul ketika berinteraksi.
Riset di dalam jurnal Comprehensive Psychiatry pada tahun 2011 bahkan memperlihatkan terdapat motif psikologis yang jauh lebih rumit di balik kebiasaan tersebut.
Bagi sebagian kalangan, mengarahkan pandangan ke mata lawan bicara secara langsung sanggup memunculkan sensasi bagaikan sedang diperhatikan ataupun dinilai, sehingga percakapan biasa pun terasa menegangkan.
Penelitian tersebut mendapati, individu dengan gangguan kecemasan sosial lebih sering merasakan ketakutan serta cenderung menghindari kontak mata ketimbang mereka yang tidak mengalami kondisi itu.
Sebagian partisipan bahkan mengaku tidak nyaman tatkala harus melaksanakan kontak mata, serta kebingungan menentukan seberapa lama durasi tatapan yang dianggap lumrah di tengah situasi sosial.
Temuan ini mengindikasikan bahwa keengganan melaksanakan kontak mata tidak selamanya berkaitan dengan karakter pemalu. Pada kalangan mahasiswa, semakin tinggi tingkat kecemasan mereka terhadap tatapan mata, semakin tinggi pula kadar kecemasan sosial yang dirasakan.
Pola serupa pun dijumpai pada pasien dengan gangguan kecemasan sosial umum, di mana rasa takut terhadap kontak mata bertaut erat dengan tingkat keparahan gangguan tersebut.
Bahkan, kecemasan terhadap tatapan mata terbukti mempunyai relasi yang lebih kuat terhadap kecemasan sosial dibandingkan dengan depresi. Artinya, perilaku ini sanggup menjadi ciri yang jauh lebih spesifik guna mengenali kecemasan sosial ketimbang gejala-gejala lain.
Meskipun demikian, menjauhi tatapan mata tetap sanggup memengaruhi cara seseorang dinilai oleh individu lain tatkala berbicara.
"Baik karena malu, gugup, atau sekadar canggung, menghindari kontak mata secara tidak sengaja bisa memberi kesan tidak tertarik, tidak percaya diri, bahkan tidak jujur," ujar terapis April Crowe, LCSW, dikutip Paramount Wellness Retreat.
"Saat mata Anda terus berpindah-pindah, entah melihat ke lantai, langit-langit, atau ke mana saja selain lawan bicara, itu memberi kesan Anda sedang teralihkan atau merasa cemas," tambah Crowe.
Di dalam riset tersebut, para peneliti mengevaluasi ulang pasien penderita gangguan kecemasan sosial seusai menjalani pengobatan selama 8 hingga 12 minggu dengan memanfaatkan paroxetine, yakni obat yang telah memperoleh persetujuan guna menangani gangguan kecemasan sosial.
Hasilnya, rasa takut serta kecenderungan menghindari kontak mata pada para pasien menurun secara signifikan, seiring membaiknya gejala kecemasan sosial secara menyeluruh.
Temuan ini memperlihatkan bahwa ketakutan terhadap kontak mata sanggup mereda seiring kecemasan sosial yang mendasarinya ditangani secara tepat.
Di samping penanganan medis, membiasakan diri melaksanakan kontak mata secara bertahap pun sanggup menolong seseorang agar merasa lebih tenteram saat berinteraksi.
Disadur dari Very Well Mind, tatkala berbincang empat mata, cobalah mengarahkan pandangan ke area di antara atau sedikit di atas kedua mata lawan bicara.
Seandainya menatap secara langsung masih dirasakan canggung, cobalah melonggarkan fokus tanpa harus terpaku secara persis pada mata mereka.
Sesekali mengalihkan pandangan pun merupakan suatu hal yang wajar di dalam percakapan. Menatap secara terlalu intens justru sanggup membuat lawan bicara merasa tidak nyaman, sehingga kontak mata sebaiknya dijalankan secara alami dan tidak terus-menerus.