JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengumumkan penjualan eceran tumbuh sebesar 0,7% secara bulanan (month to month/MtM) pada Juni, sekaligus menyudahi tren penurunan dalam dua bulan terdahulu yakni April 2026 (-11,6%) beserta Mei 2026 (-1,5%).
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menguraikan bahwa pemulihan perdagangan eceran itu dipengaruhi oleh siklus tahunan yang hadir setiap Juni.
"Perkembangan tersebut sejalan dengan terjaganya permintaan selama periode HBKN [hari besar keagamaan nasional] dan libur sekolah," jelas Denny dan keterangannya, Selasa (11/8/2026).
Sementara itu, pemulihan tersebut ditopang kenaikan transaksi Kelompok Barang Lainnya (6,9% MtM), Kelompok Suku Cadang dan Aksesori (3,7% MtM), serta Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya (2,8% MtM), usai masing-masing mengalami kontraksi 9,2% MtM, 4,7% MtM, serta 0,7% MtM pada bulan sebelumnya.
Secara tahunan (year on year/YoY), perdagangan eceran mencatatkan kontraksi sebesar 3,0%, meneruskan kontraksi 3,9% pada bulan lalu. Berdasarkan kategorinya, sektor yang masih mengalami penurunan yaitu Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (-3,6% YoY) serta Subkelompok Sandang (-3,1% YoY).
Sedangkan pada bulan berikutnya atau Juli 2026, BI memperkirakan perdagangan eceran mengalami kontraksi sebesar 0,3% MtM.
Dinamika tersebut didorong oleh normalisasi permintaan pascaterselenggaranya periode HBKN serta libur sekolah. Sebaliknya, penjualan eceran pun diprediksikan mengalami kenaikan secara tahunan. IPR Juli 2026 diestimasikan naik sebesar 0,9% YoY.
Selanjutnya, dari aspek harga, diproyeksikan inflasi pada tiga bulan mendatang atau September bakal menurun. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2026 berada pada level 155,2, lebih rendah jika dibanding periode terdahulu (178).
Sebaliknya, inflasi pada enam bulan mendatang alias Desember 2026 diantisipasi bakal menguat. Penyebabnya, IEH Desember 2026 berada pada level 168,1, naik dari periode sebelumnya (167,5).