JAKARTA (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa tradisi lisan menjadi salah satu dari sepuluh obyek dari program pemajuan kebudayaan yang memerlukan usaha pelindungan berkelanjutan agar tetap lestari di tengah masyarakat.
"Upaya tersebut memerlukan ruang-ruang perjumpaan yang mempertemukan para maestro, tetua adat, dan generasi muda agar proses transmisi pengetahuan terus berlangsung.
Selain itu, penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari perlu terus diperkuat, disertai dukungan kepada para pelaku budaya agar dapat terus mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya,” ujar Menteri Kebudayaan dalam keterangan yang dikonfirmasi dari Jakarta, Kamis.
Ia menegaskan bahwa kebijakan Kementerian Kebudayaan memposisikan kebudayaan dalam empat fungsi utama, yakni sebagai daya ikat bangsa, sumber identitas dan karakter bangsa, kekuatan ekonomi lewat ekonomi budaya, serta instrumen diplomasi dan soft power Indonesia.
Menbud pun menilai bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), menghadirkan tantangan serta peluang bagi pelestarian tradisi lisan.
Teknologi seperti pengenalan suara (speech recognition), dokumentasi digital, revitalisasi tradisi lisan dalam berbagai bahasa daerah, language modeling, digitalisasi arsip, hingga pengembangan bahan ajar dapat dimanfaatkan guna memperkuat usaha pelindungan dan pewarisan tradisi lisan.
“Selama tradisi lisan masih dituturkan, ingatan budaya Indonesia akan tetap hidup. Karena itu, mari kami tempatkan pengetahuan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya tradisi dan sumber daya untuk membaca persoalan hari ini sekaligus membangun masa depan yang berkelanjutan,” ujar Fadli.
Seminar, lanjut dia, menjadi salah satu media guna menjaga, mengembangkan, serta mewariskan tradisi lisan sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
“Tradisi lisan memiliki banyak jenis, di antaranya patra, mantra, doa, syair, nyanyian, silsilah, kisah asal usul, petatah petitih, hingga pertunjukan yang menjadi wahana untuk menata hubungan sosial, membaca alam, hingga mengingat peristiwa dan meneruskan nilai-nilai kehidupan," kata dia.
Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan, Pudentia MPSS menyampaikan bahwa lewat seminar, masyarakat mampu melihat tradisi lisan sebagai pengetahuan yang terus hidup.