JAKARTA — Perusahaan pembiayaan PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA) mencatatkan hasil positif sepanjang paruh pertama tahun ini. Hasil positif tersebut terlihat dari peningkatan laba bersih perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, KDB Tifa Finance mencatatkan laba bersih sebesar Rp 23,36 miliar pada semester pertama tahun 2026.
Jumlah itu mengalami pertumbuhan sebesar 16,57%, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 20,04 miliar.
Walaupun jumlah pendapatan mengalami kontraksi, perseroan sukses menekan total beban. Alhasil, perolehan laba bersih entitas bisnis ini tetap dapat meningkat.
Secara rinci, pendapatan perseroan tercatat senilai Rp 86,47 miliar pada paruh pertama 2026. Angka tersebut mengalami kontraksi 2,22%, apabila dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya yang mencapai Rp 88,43 miliar.
Sementara itu, total beban KDB Tifa Finance berada di angka Rp 56,66 miliar pada semester I-2026, yang menunjukkan penurunan 7,52% jika dibandingkan posisi semester sama tahun lalu sebesar Rp 61,27 miliar.
Di samping itu, nilai total aset dan liabilitas perseroan secara bersamaan mengalami kontraksi. KDB Tifa Finance membukukan aset senilai Rp 1,98 triliun pada semester pertama 2026, yang terkontraksi 2,94% dibandingkan pencapaian penghujung tahun lalu sebesar Rp 2,04 triliun.
Adapun jumlah liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp 752,56 miliar pada semester I-2026, terkontraksi 9,27% dari posisi akhir tahun 2025 yang bernilai Rp 822,33 miliar. Kendati demikian, ekuitas KDB Tifa Finance justru mencatatkan pertumbuhan 0,82%, yakni bergerak dari Rp 1,22 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp 1,23 triliun pada paruh pertama 2026.
Dalam perkembangan lain, PT KDB Tifa Finance Tbk turut mengumumkan pergeseran susunan pemegang saham setelah Korea Development Bank (KDB) menuntaskan transaksi pembelian seluruh saham milik PT Dwi Satrya Utama (DSU). Aksi korporasi tersebut mendongkrak porsi kepemilikan KDB di perusahaan pembiayaan tersebut hingga menjadi 92,5%.
Berdasarkan keterbukaan informasi, transaksi itu merupakan wujud pelaksanaan ketentuan dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli Saham (PPJB) terkait proses pengambilalihan PT KDB Tifa Finance Tbk oleh Korea Development Bank yang dieksekusi pada tahun 2020 silam.
Sebelum aksi korporasi ini tuntas, KDB memegang kendali atas 2,75 miliar saham atau setara dengan 77,5% kepemilikan di TIFA. Di sisi lain, PT Dwi Satrya Utama menguasai 532,71 juta saham atau setara 15%, sementara porsi kepemilikan masyarakat berada di angka 7,5%.
Selepas transaksi rampung, seluruh kepemilikan saham milik DSU berpindah tangan kepada KDB. Dengan demikian, porsi kepemilikan KDB bertambah menjadi 3,29 miliar saham atau mencakup 92,5% dari keseluruhan saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Sementara itu, porsi kepemilikan publik tidak berubah, tetap sebesar 266,58 juta saham atau setara dengan 7,5%.
Manajemen KDB Tifa Finance menyampaikan bahwa perubahan susunan kepemilikan tersebut tidak menimbulkan implikasi material terhadap aktivitas operasional maupun kondisi keuangan perseroan.
"Informasi atau fakta material yang diungkapkan tidak memiliki dampak yang bersifat material yang dapat mempengaruhi kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha perseroan," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Kamis (30/7/2026).
Melalui penyelesaian transaksi tersebut, struktur kepemilikan saham KDB Tifa Finance menjadi lebih sederhana. Korea Development Bank kini resmi bertindak sebagai pemegang saham pengendali dengan persentase kepemilikan melampaui angka 90%.