FPCI: RI Perlu Pimpin Aksi Iklim Global di G20

FPCI: RI Perlu Pimpin Aksi Iklim Global di G20
Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal. (Foto: NET)

JAKARTA — Indonesia diminta untuk mengambil peran lebih besar dalam memimpin aksi perubahan iklim global, khususnya melalui forum G20, guna mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon sekaligus mencapai target net zero emission (NZE) 2060.

Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu negara yang memimpin agenda iklim dunia, terutama ketika komitmen sejumlah negara besar terhadap pengurangan emisi mulai melemah. 

Menurut dia, Indonesia perlu memanfaatkan keanggotaannya di G20 untuk mendorong kebijakan iklim yang lebih progresif. 

Pasalnya, negara-negara anggota G20 menyumbang sekitar 80% emisi gas rumah kaca global sehingga memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pengendalian pemanasan global.

"Indonesia harus menggunakan keanggotaannya di G20 untuk mendorong perubahan iklim yang progresif, terlepas dari kebijakan Amerika Serikat," ujarnya dalam Indonesia Net Zero Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Eks Wakil Menteri Luar Negeri itu mengatakan, harapan menjaga target iklim global kini bertumpu pada jaringan negara-negara yang secara konsisten menjalankan transisi energi dan pembangunan rendah karbon. 

Menurutnya, kelompok negara tersebut kini menjadi motor utama dalam menjaga keselamatan iklim dunia.

Dia mencontohkan sejumlah negara yang berhasil mempercepat transformasi menuju energi bersih, seperti Cina yang menjadi kekuatan utama energi surya dunia, India yang terus memperbesar kapasitas energi terbarukan, serta Pakistan yang meningkatkan bauran energi terbarukan secara signifikan dalam 5 tahun terakhir. 

Selain itu, negara-negara seperti Uruguay, Brasil, Vietnam, Portugal, Norwegia, Australia, Kenya, Bhutan, dan Kosta Rika juga telah sukses mengakselerasi transformasi menuju energi terbarukan.

Keberhasilan negara-negara tersebut menunjukkan bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon dapat dilakukan oleh negara dengan tingkat pembangunan dan karakteristik ekonomi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Dino menilai Indonesia perlu bergabung dalam kelompok negara progresif tersebut.

Selain menjadi bagian dari tanggung jawab global dalam mengatasi perubahan iklim, langkah tersebut juga dinilai membuka peluang investasi baru dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

"Indonesia harus menjadi salah satu negara progresif dalam aksi iklim. Ini bukan hanya tanggung jawab moral, tetapi juga peluang ekonomi yang besar," katanya.

Di sisi lain, dia menilai kepemimpinan Indonesia dalam isu iklim akan menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung pencapaian target net zero emission pada 2060. 

Dengan memperkuat diplomasi iklim, mempercepat transisi energi, serta membangun kerja sama internasional, Indonesia dinilai dapat memainkan peran lebih besar dalam mendorong percepatan dekarbonisasi global sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu pemimpin transisi energi di kawasan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index