JAKARTA - Lembaga pengelola investasi Indonesia, Indonesia Investment Authority (INA), berhasil menduduki posisi kedua sebagai sovereign wealth fund (SWF) dengan tata kelola, keberlanjutan, serta ketahanan kelembagaan paling unggul di Asia.
Pengakuan ini didasarkan pada laporan Governance, Sustainability and Resilience (GSR) Scoreboard 2026 yang dikeluarkan oleh Global SWF.
Pada evaluasi kali ini, INA sukses mengantongi total skor sebesar 92 persen. Adapun rincian pencapaiannya meliputi aspek Governance senilai 9 dari 10 poin, Sustainability senilai 9 dari 10 poin, serta aspek Resilience dengan nilai sempurna 5 dari 5 poin.
Raihan impresif tersebut menempatkan posisi INA persis di bawah posisi Temasek Holdings asal Singapura.
Ketua Dewan Direktur INA, Oki Ramadhana, mengutarakan dalam sebuah diskusi di kantor INA pada Rabu bahwa pencapaian ini bermakna sangat krusial di tengah tingginya ketidakpastian global.
Hal ini dikarenakan faktor kredibilitas serta tata kelola saat ini telah menjadi pertimbangan utama bagi para investor dalam menentukan rekan investasi mereka.
“Di tengah uncertainty, geopolitik, dan berbagai perubahan lingkungan ekonomi, GSR menjadi sangat penting bagi institusi mana pun untuk menarik investasi. Terutama bagi INA yang memiliki mandat mendatangkan investasi, baik domestik maupun asing, ke Indonesia,” kata Oki dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Ia berpendapat bahwa saat ini pemodal internasional tidak lagi memandang sovereign wealth fund sekadar dari nilai total aset yang dikelola ataupun portofolio bisnisnya saja.
Kepercayaan mereka kini juga diukur dari mutu tata kelola, transparansi, ketegasan disiplin investasi, hingga kekuatan pertahanan institusinya.
Ia memaparkan bahwa GSR Scoreboard melakukan peninjauan terhadap kurang lebih 25 indikator yang meliputi dimensi tata kelola, keberlanjutan, dan juga daya tahan lembaga.
Oleh sebab itu, instrumen ini bertransformasi menjadi barometer bagi investor dalam menentukan institusi kredibel yang layak dijadikan rekan kerja sama.
“Yang lebih penting adalah governance. Mitra-mitra investasi kami di luar negeri melihat aspek tata kelola sebagai faktor utama dalam memilih partner untuk berinvestasi di Indonesia,” ujarnya.
Oki menuturkan bahwa prestasi teranyar ini diharap mampu kian memperkokoh basis kepercayaan penanam modal dunia terhadap Indonesia.
Ia menilai, keberhasilan INA dalam membentuk reputasi kelembagaan yang positif bakal memberikan stimulus yang lebih masif bagi perekonomian domestik lewat lonjakan aliran modal masuk.
Sebagai informasi, Global SWF ialah sebuah wadah riset mandiri yang melakukan pengawasan terhadap sekitar 200 sovereign wealth fund serta dana pensiun publik di seluruh penjuru dunia.
Proses penilaian dilakukan secara objektif melalui praktik kelola, keberlanjutan, dan ketahanan lembaga dengan bersandar pada data yang dapat diakses oleh masyarakat luas.
Semenjak resmi beroperasi pada tahun 2021, perolehan skor GSR milik INA terpantau konsisten merangkak naik, dimulai dari angka 24 persen di tahun 2021, berlanjut ke 52 persen pada 2022, lalu 56 persen pada 2023, melonjak ke 60 persen pada 2024, naik lagi ke 68 persen pada 2025, hingga akhirnya berhasil menembus 92 persen pada musim penilaian 2026.