JAKARTA – Wilayah yang mengalami dampak kekeringan di Kabupaten Bekasi terus meluas seiring tibanya puncak musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung sampai bulan September 2026. Data tersebut dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, menjelaskan bahwa berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Bekasi saat ini sudah berada di fase puncak musim kemarau yang terjadi mulai Juli hingga September.
"Berdasarkan laporan permohonan bantuan air bersih dari masyarakat sampai dengan 28 Juli 2026, wilayah terdampak kekeringan bertambah menjadi 23 desa yang tersebar di sembilan kecamatan," ujar Dodi dalam keterangan resminya, Rabu (29/7/2026).
Hingga tanggal 28 Juli 2026 pukul 23.00 WIB, catatan dari BPBD memperlihatkan bahwa ada 10.254 kepala keluarga (KK) atau setara dengan 30.593 jiwa yang mengalami krisis air bersih.
Selain menyulitkan warga dalam mendapatkan air bersih, musim kemarau ini juga mulai mengganggu sektor pertanian. BPBD melaporkan ada kurang lebih 2.499 hektar lahan produktif pertanian di 45 desa pada 15 kecamatan yang kini mengalami kekeringan.
Guna merespons tingginya permohonan bantuan dari masyarakat, Dodi Supriadi menyampaikan bahwa pihak BPBD terus memaksimalkan proses penyuplaian air bersih.
"BPBD mencatat telah terjadi 83 titik lokasi kekeringan yang membutuhkan pendistribusian air bersih. Hingga saat ini, total 2.892.300 liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat," jelas Dodi.
Ketersediaan pasokan air bersih ini dikumpulkan dari bantuan bermacam-macam perusahaan dan instansi. Rinciannya meliputi BPBD Kabupaten Bekasi sebanyak 1.118.000 liter, Perumda Tirta Bhagasasi sebanyak 908.000 liter, PMI sebanyak 580.000 liter, Delta Mas sebanyak 33.000 liter, PT Hyundai sebanyak 6.000 liter, BBWS Ciliwung Cisadane sebanyak 40.000 liter, BBWS Citarum sebanyak 16.000 liter, Yayasan BMI sebanyak 8.000 liter, Yayasan SCK sebanyak 160.000 liter, PT EJIP sebanyak 10.000 liter, DPC GAMKI sebanyak 5.000 liter, serta sokongan program CSR Jababeka berjumlah 8.300 liter.
"Kami juga terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait," kata Dodi.
Langkah koordinasi terus dilakukan dengan pihak Perumda Tirta Bhagasasi demi menjamin pasokan air bersih bagi warga tetap aman.
Di samping itu, BPBD juga bekerja sama dengan Dinas Pertanian, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), dan Perum Jasa Tirta (PJT) II untuk bersama-sama menangani imbas kekeringan pada lahan-lahan pertanian.
Sedangkan untuk langkah antisipasi penyakit yang berpotensi muncul sepanjang musim kemarau, BPBD bergerak bersama dengan Dinas Kesehatan.
"Kami juga berkoordinasi dengan anggota Klaster Logistik agar ikut berkontribusi dalam pendistribusian bantuan air bersih ke wilayah yang terdampak bencana kekeringan," ujar Dodi.
Merujuk pada data yang dihimpun BPBD, sebaran kekeringan berada di 23 desa yang masuk dalam sembilan kecamatan berbeda, yakni Cabangbungin, Tarumajaya, Babelan, Sukawangi, Pebayuran, Sukatani, Cikarang Selatan, Serang Baru, dan Bojongmangu.
Untuk wilayah Kecamatan Cabangbungin, satu titik kekeringan terdeteksi di Desa Lenggahsari. Di Kecamatan Tarumajaya, ada dua titik yang berlokasi di Desa Samudrajaya.
Sementara Kecamatan Babelan mencatat empat titik kekeringan, terbagi di Desa Kedung Pengawas sebanyak tiga titik dan Desa Buni Bakti sebanyak satu titik.
Di Kecamatan Sukawangi terdata tiga titik, dengan rincian dua titik di Desa Sukadami dan satu titik di Desa Serang. Selanjutnya, Kecamatan Pebayuran mendeteksi enam titik yang seluruhnya berada di Desa Karang Segar, lalu Kecamatan Sukatani melaporkan dua titik di Desa Sukamulya.
Pada area Kecamatan Cikarang Selatan terdapat 15 titik kekeringan yang tersebar meliputi Desa Nagasari (10 titik), Nagacipta (dua titik), Jaya Mulya (dua titik), serta Sukasari (satu titik).
Untuk Kecamatan Serang Baru terdata 20 titik kekeringan, masing-masing bertempat di Desa Ridogalih (sembilan titik), Ridomanah (lima titik), Cibarusah Jaya (empat titik), Cibarusah Kota (satu titik), dan Sirnajati (satu titik).
Kecamatan Bojongmangu menjadi wilayah dengan dampak kekeringan paling parah karena memiliki total 30 titik kekeringan.
Titik-titik kekeringan tersebut tersebar di Desa Sukabungah (satu titik), Medalkrisna (11 titik), Karang Mulya (dua titik), Sukamukti (dua titik), Karang Indah (13 titik), serta Desa Bojongmangu (satu titik).
Melalui data tersebut, Bojongmangu menjadi kawasan dengan dampak paling besar, disusul oleh Kecamatan Serang Baru dengan jumlah 20 titik dan Cikarang Selatan sebanyak 15 titik.
Ketiga kecamatan ini mencakup sekitar 78 persen dari total keseluruhan 83 titik kekeringan yang didata oleh BPBD Kabupaten Bekasi.
Di sisi lain, dampak kekeringan yang menyerang sektor lahan pertanian terpantau memiliki cakupan yang lebih luas lagi karena sudah menyentuh 15 kecamatan di Kabupaten Bekasi.