Kemarau Panjang, Petani Cirebon Pilih Tanam Palawija

Kemarau Panjang, Petani Cirebon Pilih Tanam Palawija
Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kini mulai merasakan dampak dari kedatangan musim kemarau. (Foto: NET)

JAKARTA – Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kini mulai merasakan dampak dari kedatangan musim kemarau. 

Hambatan dalam memperoleh pasokan air irigasi untuk area persawahan memaksa mereka menyetop aktivitas penanaman. 

Sebagian dari petani memilih untuk membiarkan lahan mereka tidak terurus, namun sebagian yang lain berupaya menyiasatinya dengan berpindah ke komoditas palawija.

Seorang petani asal Desa Sinarancang, Kecamatan Mundu, bernama Subandi menjelaskan bahwa lahan sawah yang digarapnya sudah tidak memperoleh aliran irigasi selama dua bulan terakhir. 

Kondisi tersebut dipicu oleh kekeringan yang mulai melanda kawasan hulu di wilayah Kabupaten Kuningan serta Majalengka.

Demi menyiasati minimnya ketersediaan air, Subandi bersama rekan-rekan sesama petani membulatkan tekad untuk berpindah menanam palawija yang memiliki daya tahan lebih baik. 

Langkah ini diambil sebagai strategi agar lahan yang telanjur mereka sewa bisa terus diproduksi walaupun di tengah keterbatasan.

"Sekarang musim kemarau, jadi kami punya inisiatif sendiri bagaimana caranya bertahan hidup. Tadinya tanam padi, tetapi sekarang beralih ke palawija karena padi sulit mendapatkan air," kata Subandi saat ditemui media di lahannya pada Selasa (28/7/2026) pagi.

Subandi mengungkapkan bahwa tanaman cabai yang baru saja ditanam di area seluas kurang lebih setengah hektar kini telah menampakkan pertumbuhan. Tanaman palawija tersebut diproyeksikan akan memasuki masa panen dalam kurun beberapa bulan ke depan.

Bagi masyarakat tani di daerah tersebut, mengolah tanaman palawija bukanlah sebuah hal yang asing. Pola tanam bergantian ini selalu mereka terapkan tiap kali kemarau datang lantaran dianggap paling cocok dengan karakteristik wilayah pegunungan yang minim pasokan air.

Hingga saat ini, kelompok tani baru mengelola area lahan seluas setengah hektar. Kendati demikian, mereka memiliki target untuk memperluas pemanfaatan lahan secara bertahap sampai menyentuh angka dua hektar supaya tanah-tanah yang pasif bisa kembali menghasilkan. 

Di samping cabai, mereka juga bersiap membudidayakan bawang merah, terong, beserta variasi komoditas palawija lainnya sebagai opsi selama berlangsungnya musim kemarau.

Walaupun demikian, problem minimnya air tetap menjadi hambatan paling besar bagi mereka. Agar tanaman dapat terus tumbuh dengan baik, para petani wajib melaksanakan penyiraman secara berkala pada waktu pagi dan sore hari dengan memanfaatkan titik-titik air terdekat. 

Petani harus membuat sumur bor atau menyedot air menggunakan mesin diesel dari lokasi yang berdekatan dengan sumber air.

"Yang paling utama sekarang soal air. Karena kemarau cukup panjang, kami berinisiatif melakukan pengeboran agar tetap ada sumber air untuk tanaman," tuturnya.

Ia berpendapat bahwa kecukupan pasokan air pada komoditas cabai menjadi aspek paling krusial dalam menentukan keberhasilan masa panen nanti. Atas dasar itulah, proses penyiraman senantiasa dikerjakan secara berkala sesuai dengan keperluan vegetasi agar terhindar dari kelayuan akibat kekeringan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index