JAKARTA – Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) mendatangkan tokoh pemerhati anak, Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto. Kehadirannya bertujuan untuk memotivasi serta menumbuhkan harapan bagi 37 anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas IIA Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Kak Seto menyampaikan pesan bahwa tiap anak memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa dibanding-bandingkan. Masa lalu atau latar belakang yang dimiliki oleh anak-anak tersebut tidak boleh melunturkan kepercayaan terhadap potensi diri yang mereka miliki.
"Semua anak itu unik, otentik, dan tidak terbandingkan. Semua anak hebat. Anak binaan tetap anak-anak Indonesia yang harus dihargai, dihormati, dan percaya diri menyongsong masa depannya," kata Kak Seto dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) ini mengaku sangat terkesan dengan pola pembinaan di LPKA Jakarta. Menurut pengamatannya, anak-anak binaan di sana masih bisa memancarkan keceriaan lewat beragam aktivitas bersama.
"Saya melihat LPKA ini ramah anak. Dari wajah-wajah mereka tercermin bahwa mereka dibina, diberi motivasi, diberi semangat, dan diasuh dengan cara yang baik sehingga tetap memiliki rasa percaya diri. Itu terlihat ketika mereka bergerak, bernyanyi, dan bergembira bersama," ujar Kak Seto.
Agenda bertajuk "Kakak Bercerita Bersama Kak Seto" yang berlangsung pada Senin (27/7) tersebut terlaksana berkat kerja sama Ditjenpas dengan Pokja Stop Stigma (Sinergi Sejuta Tangan)—yang beranggotakan Espas Indonesia, Ikatan Bimbingan Konseling Sekolah, Sahabat Anak Indonesia, dan Jendela Pendidikan Nusantara.
Kegiatan ini ditujukan agar anak-anak binaan kembali yakin bahwa masa depan mereka masih terbuka lebar.
Saat acara berlangsung, Kak Seto menggunakan pembawaan khasnya yang hangat dan jenaka untuk mengajak anak-anak merefleksikan perjalanan hidupnya.
Sosok di balik karakter Si Komo ini membagikan kisah masa kecil dan masa mudanya yang penuh liku, mulai dari rentetan kegagalan hingga penolakan, sebelum akhirnya bisa sukses. Melalui kisah hidupnya, Kak Seto ingin memperlihatkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
"Bukan hanya berani sukses, tetapi anak-anak juga harus berani gagal untuk kemudian bangkit kembali menjadi lebih hebat di masa depan," ucap Kak Seto.
Lebih lanjut, Kak Seto mengimbau masyarakat luas, khususnya para orang tua, agar menyambut kembali anak-anak yang sedang menjalani pembinaan ini dengan tangan terbuka dan penuh penerimaan.
"Mereka (anak binaan) tetap memiliki masa depan. Semoga kelak mereka pulang dengan penuh rasa syukur karena telah dibina negara dengan baik dan mampu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik," tutur Kak Seto.
Di sisi lain, Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Daerah Khusus Jakarta, Wachid Wibowo, turut menginginkan agar anak-anak mengingat bahwa setiap manusia pasti pernah keliru dan gagal. Perbedaannya terletak pada tekad masing-masing individu untuk berubah.
"Kemarin mungkin ada pelanggaran hukum yang menyebabkan anak-anak berada di sini. Hari ini mulailah bertobat, gunakan waktu selama menjalani pembinaan untuk merenung, belajar, dan memperbaiki diri," kata Wachid Wibowo.
"Kesempatan kalian masih panjang. Negara membutuhkan kalian, keluarga juga membutuhkan kalian," tambah Wachid Wibowo.
Wachid Wibowo juga mengajak seluruh anak binaan di LPKA Jakarta untuk bertekad tidak mengulangi kekeliruan yang sama. Ia meminta mereka memanfaatkan seluruh program pembinaan yang ada sebagai modal penting saat kembali ke lingkungan masyarakat kelak.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Pihak dinas menyampaikan bahwa setiap anak mempunyai hak setara dalam mengenyam pendidikan.
Kolaborasi antara Ditjenpas, pemerhati anak, dan instansi pemerintah ini diharapkan dapat memastikan pemenuhan hak belajar serta pengembangan potensi anak-anak binaan.
Dalam acara tersebut, anak-anak binaan mendapatkan sumbangan buku cerita untuk merangsang minat baca dan memperluas wawasan mereka. Selain itu, satu unit laptop juga diserahkan guna menunjang kelancaran proses pembelajaran di LPKA agar semakin maksimal.
Suasana ceria terus menyelimuti anak-anak binaan LPKA Jakarta sepanjang acara. Mereka menikmati hidangan nasi cadong yang diselingi dengan berbagai permainan serta lagu-lagu hiburan yang membuat suasana mencair tanpa jarak.
Mengenai hal tersebut, Juru Bicara Ditjenpas, Rika Aprianti, menjelaskan bahwa di balik kegiatan-kegiatan sederhana itu, terdapat pesan mendalam mengenai hak anak untuk mendapatkan kesempatan kedua.
Ia menegaskan bahwa pembinaan di lembaga ini bukan sekadar bentuk hukuman, melainkan wadah untuk merajut kembali harapan, menata karakter, dan mempersiapkan mereka agar siap berbaur kembali dengan masyarakat.
"Di balik tembok LPKA, masih ada mimpi yang terus dijaga, potensi yang terus dipupuk, dan masa depan yang layak diperjuangkan," pungkas Rika Aprianti.