JAKARTA — Laju reli saham-saham konglomerasi diproyeksikan masih terus berlanjut pada semester II/2026. Kendati demikian, geraknya akan lebih selektif mengingat ruang kenaikan harga bakal bergantung pada kekuatan fundamental tiap-tiap emiten.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Wisnubroto menilai bahwa saham konglomerasi Grup Salim, Barito Group milik Prajogo Pangestu, serta grup Sinarmas melalui PT Dian Swastika Sentosa Tbk.
(DSSA) menjadi deretan kelompok konglomerasi yang mengantongi pendorong bisnis paling menjanjikan pada semester II ini.
Rully membeberkan bahwa Grup Salim dinilai unggul di sektor pusat data dan infrastruktur digital. Di lain sisi, Barito memperoleh suntikan sentimen positif dari ekspansi di bidang energi, hilirisasi, proyek industri, serta energi terbarukan.
Sementara itu, Sinarmas tetap ditopang oleh perpaduan bisnis energi terintegrasi, industri kertas (pulp and paper), hingga infrastruktur digital.
Berdasarkan data pemantauan sepanjang periode 20–24 Juli 2026, Barito Group menjadi grup konglomerasi dengan performa paling solid usai nilai kapitalisasi pasarnya bertambah sekitar Rp58 triliun dalam tempo sepekan.
Di waktu bersamaan, Bakrie Group mencatatkan rata-rata lonjakan harga saham tertinggi, yaitu sebesar 19,3% per saham. Dalam rentang waktu tersebut, saham MPRO, BREN, dan DSSA menjadi deretan saham dengan kinerja terbaik.
Rully menjelaskan bahwa penguatan saham konglomerasi dalam beberapa waktu terakhir terutama disokong oleh kombinasi masuknya kembali arus modal asing ke pasar, pergeseran minat investor ke saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid (big caps), serta katalis spesifik yang dimiliki oleh masing-masing emiten.
"Kenaikan saham konglomerasi saat ini paling dominan didorong oleh kombinasi arus dana asing, rotasi ke big caps likuid, dan katalis spesifik emiten," ujarnya, Minggu (26/7/2026).
Menurut Rully, performa dari setiap kelompok konglomerasi kini makin bergantung pada kualitas fundamentalnya. Ketimpangan kinerja antarkelompok usaha dipengaruhi oleh katalis bisnis, kualitas perolehan laba, hingga komposisi portofolio aset yang dimiliki masing-masing grup.
Ia menilai grup konglomerasi yang mengusung tema pertumbuhan secara jelas—seperti pusat data (data center), energi, hilirisasi, dan infrastruktur—jauh lebih menarik dibandingkan kelompok usaha yang bisnis utamanya cenderung defensif tetapi belum mempunyai katalis baru untuk memicu pembalikan penilaian (rerating) valuasi.
Di sisi lain, Rully mencermati bahwa valuasi sebagian besar saham konglomerasi besar saat ini sudah berada di level yang tinggi (premium), bahkan terbilang mahal.
Oleh sebab itu, potensi kenaikan harga saham yang bersumber dari ekspansi valuasi dinilai kian terbatas apabila tidak diimbangi dengan pertumbuhan laba yang kokoh.
"Pertanyaan utamanya bukan lagi murah atau mahal secara absolut, tetapi apakah pertumbuhan earnings per share [EPS] hingga akhir 2026 cukup cepat untuk membenarkan harga saham saat ini," katanya.