Reksadana dan Perbankan Dominasi Obligasi Korporasi

Reksadana dan Perbankan Dominasi Obligasi Korporasi
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). (Foto: NET)

JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengungkapkan bahwa mayoritas investor yang memegang obligasi korporasi berasal dari kalangan reksadana serta perbankan.

Direktur Pemeringkatan Pefindo, Hendro Utomo memaparkan bahwa pemegang obligasi korporasi tersebar di sejumlah sektor investasi. Nilai investasi dari pemodal reksadana pada instrumen obligasi korporasi menyentuh Rp 205,5 triliun hingga April 2026. 

Sementara itu, industri perbankan menanamkan dana senilai Rp 117,4 triliun, industri asuransi sebesar Rp 92,7 triliun, sektor dana pensiun sebesar Rp 67,1 triliun, BPJS menorehkan Rp 24,8 triliun, dan kategori lainnya mengemas Rp 173,2 triliun.

“Investor dari reksadana dan perbankan masih mendominasi penyerapan dari penerbitan obligasi korporasi,” ucap Hendro dalam konferensi pers, Rabu (8/7/2026).

Hendro menuturkan bahwa total penerbitan obligasi korporasi sepanjang semester I – 2026 berada di angka Rp 87,35 triliun, mengalami penyusutan sebesar 3,91% secara year on year (yoy) dari capaian semester I – 2025 yang menembus Rp 90,90 triliun. 

Dari sisi sektoral, industri multifinance menjadi produsen terbesar yang menerbitkan obligasi korporasi dengan nilai Rp 12,93 triliun. 

Posisi berikutnya ditempati sektor pulp dan kertas senilai Rp 12,84 triliun, disusul perusahaan induk sebesar Rp 11,87 triliun. Selanjutnya, sektor perbankan mencatatkan Rp 11,69 triliun dan bidang pertambangan meraih Rp 11,58 triliun.

“Jumlah emiten atau perusahaan yang menerbitkan obligasi korporasi mencapai 62 perusahaan,” kata Hendro.

Sementara itu, menilik pada alokasi pemanfaatannya, dana sebanyak Rp 44,77 triliun dipakai sebagai modal kerja, Rp 23,10 triliun dialokasikan demi refinancing, serta Rp 19,48 triliun disiapkan untuk investasi. 

Menyangkut pemeringkatan, korporasi penerbit obligasi dengan peringkat A mendominasi sebanyak 44,78%, diikuti peringkat AAA sebesar 35,26%, dan korporasi berperingkat AA menyumbang 19,96%.

Selanjutnya dari segi jangka waktu (tenor), obligasi korporasi yang paling dominan dirilis selama semester pertama ini ialah tenor 5 tahun dengan porsi 28,31%, disusul tenor 1 tahun sejumlah 28,01%, tenor 3 tahun menyentuh 27,85%, serta obligasi korporasi tenor 7 tahun sebesar 11,45%.

“Terlihat non BUMN atau swasta cukup dominan di pasar surat utang, dengan total penerbitan Rp 62,9 triliun dan BUMN group sebesar Rp 16,2 triliun,” terang Hendro.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index