JAKARTA – Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Ni Komang Rasminiati mengungkapkan bahwa instansinya gencar melakukan koordinasi bersama PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) selaku Badan Usaha Pelaksana.
Langkah ini diambil guna mematangkan persiapan pra-uji coba proyek Multi Lane Free Flow (MLFF) atau sistem pembayaran jalan tol tanpa kartu dan tanpa setop.
“Koordinasi itu terkait dengan persiapan teknis skenario-skenario untuk pra uji coba sistem pembayaran jalan tol nir sentuh itu,” kata Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT ) Ni Komang Rasminiati di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Pihak BPJT saat ini tengah memfokuskan persiapan pada aspek teknis dari berbagai skenario yang bakal diuji di lapangan. Kendati demikian, Ni Komang belum bisa memastikan tanggal pasti pelaksanaan pra-uji coba tersebut.
“Kalau persiapan sudah cukup matang, baru kita bisa menentukan targetnya kapan bisa dilakukan pra uji-coba,” kata dia.
Ketidakpastian ini juga berlaku untuk lokasi pelaksanaan, karena penentuan titik pra-uji coba MLFF nantinya harus menyesuaikan dengan skenario-skenario yang tengah disusun.
Pada kesempatan terpisah, Direktur PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) Renaldi Utomo mengonfirmasi bahwa perusahaan mereka aktif terlibat dalam merumuskan skenario teknis pengujian tersebut. Segala bentuk kemungkinan situasi di area tol kini sedang dikaji secara mendalam sebagai bagian dari persiapan.
Hubungan kerja sama antara pemerintah dan pihak investor pun diklaim berjalan harmonis. Menurutnya, pemerintah menunjukkan komitmen yang kuat untuk terus menggulirkan proyek MLFF ini.
Selaku mitra strategis dan pemodal, RITS kini memosisikan diri menunggu arahan resmi terkait waktu dan lokasi uji coba. Bali masih menjadi kandidat kuat sebagai lokasi percontohan awal, meski opsi untuk membukanya di ruas tol lain tetap terbuka lebar.
Renaldi menegaskan bahwa kontrak kerja yang dipegang RITS sejak mengantongi surat perintah kerja pada 15 Maret 2022 tidak mengalami perubahan konsep dasar. Namun, selama periode peralihan, penggunaan gerbang tol konvensional yang dilengkapi palang pembatas masih akan dipertahankan.
"Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung," katanya.
Tahapan perancangan skenario dan pengujian ini dinilai krusial sebelum kebijakan MLFF diterapkan dalam skala yang lebih masif. Sistem baru ini diproyeksikan mampu mengurai kepadatan kendaraan di gerbang tol sekaligus mempercepat proses transaksi.
Terlebih lagi, kehadiran MLFF dirasa kian mendesak akibat lonjakan volume kendaraan yang membutuhkan manajemen transaksi yang lebih efektif. Meski begitu, implementasinya wajib dilakukan secara bertahap dengan melihat kesiapan infrastruktur masing-masing jalan tol.
Pandangan senada datang dari Anton Budiharjo, pengamat transportasi asal Politeknik Transportasi Jalan, yang menyebut MLFF sebagai masa depan pengelolaan jalan tol yang tidak bisa dihindari.
Selain memperlancar laju kendaraan, sistem digital ini mempermudah pemerintah dalam memantau dan mengelola data transaksi.
Mengingat volume kendaraan yang terus padat, sistem pembayaran berbasis elektronik akan memastikan seluruh riwayat transaksi terekam secara digital sehingga pengawasan menjadi sangat mudah.
“Jika ke depan ada kebijakan baru seperti pajak jalan tol, perhitungannya juga akan lebih sederhana karena seluruh data sudah terekam secara elektronik,” kata dia.
Menurut pandangannya, Jakarta bisa menjadi titik awal yang ideal untuk implementasi MLFF karena memiliki kesiapan infrastruktur paling mumpuni. Namun, ia menyarankan agar uji coba tidak langsung dibuka di semua gerbang tol secara serentak, melainkan dimulai dari satu gerbang terlebih dahulu.
Melalui strategi tersebut, pengguna jalan tol dapat beradaptasi dan merasakan langsung kemudahan melintas tanpa perlu menghentikan kendaraan. Jika fase awal ini dinilai sukses, penerapannya bisa diperluas secara bertahap ke gerbang tol lainnya.
“Mulai dari satu gerbang dulu. Kalau masyarakat sudah merasakan kemudahannya, baru diperluas menjadi dua, tiga, hingga seluruh gerbang. Dalam jangka sekitar lima tahun, seluruh gerbang tol bisa menerapkan sistem multi lane free flow,” katanya.