JAKARTA - Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang menjadi momentum penting untuk membangun kembali semangat belajar sekaligus memperkuat nilai-nilai positif di lingkungan pendidikan.
Hal ini dimanfaatkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk kembali menegaskan pentingnya budaya aman, sehat, dan nyaman bagi seluruh peserta didik di Indonesia.
Penekanan ini tidak hanya bertujuan menciptakan suasana belajar yang kondusif, tetapi juga membentuk karakter siswa agar tumbuh dalam lingkungan yang mendukung perkembangan mental, sosial, dan akademik secara seimbang.
Momentum Awal Sekolah Jadi Penguatan Karakter Siswa
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menekankan pentingnya penguatan karakter dan budaya aman di lingkungan sekolah pada hari pertama pembelajaran setelah libur panjang Hari Suci Nyepi dan Idul Fitri 1447 H/2026.
Sekretaris Jenderal (Sesjen) Kemendikdasmen, Suharti menyampaikan penegasan tersebut saat bertindak sebagai pembina upacara bendera di SD Kramat Pela 07, Jakarta Selatan, Senin.
Momentum hari pertama masuk sekolah kali ini menjadi peluang bagi Kemendikdasmen untuk menggalakkan kembali semangat para peserta didik di seluruh Indonesia untuk terus membudayakan rukun sesama teman, menerapkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), serta mengimplementasikan Gerakan Indonesia ASRI, dan kebijakan PP Tunas secara konsisten.
Gerakan Indonesia ASRI Jadi Fondasi Lingkungan Sekolah
Dalam amanatnya, Suharti mengajak seluruh warga sekolah untuk bersama-sama mewujudkan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, lingkungan sekolah yang aman dan nyaman sebagaimana terkandung dalam filosofi ASRI menjadi fondasi utama bagi tumbuh kembang peserta didik.
“Budaya sekolah harus dibangun dengan semangat saling menghargai, saling melindungi, dan menjunjung tinggi toleransi. Tidak boleh ada lagi perundungan maupun kekerasan di lingkungan sekolah,” ujar Suharti.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan hidup sehat melalui konsumsi makanan bergizi, olahraga secara rutin, serta menjaga lingkungan agar bebas dari asap rokok.
Dorong Kebersihan dan Keindahan Lingkungan Sekolah
Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang ideal juga dilakukan melalui penguatan budaya kebersihan dan kerapian. Suharti mendorong peserta didik untuk aktif menjaga kebersihan dengan membuang serta memilah sampah, sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan piket dan kerja bakti.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang indah, tertata rapi, dan nyaman dipandang, serta menjaga fasilitas sekolah agar tetap terawat dan lestari.
Ia menegaskan lima sikap utama yang harus dimiliki pelajar Indonesia, yakni beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghormati orang tua dan guru, giat belajar, rukun dengan teman, serta mencintai Tanah Air.
“Perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat harus terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Penggunaan Gawai Bijak Jadi Bagian dari Perlindungan Anak
Pada kesempatan tersebut, Suharti menyampaikan bahwa sejak 28 Maret 2026, pemerintah mulai menerapkan kebijakan pembatasan usia akses platform digital berisiko tinggi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya melindungi anak dari dampak negatif penggunaan teknologi digital yang tidak terkendali.
Ia mengimbau peserta didik untuk menggunakan gawai secara bijak dengan prinsip 3S, yaitu membatasi waktu penggunaan (screen time), menggunakan di tempat yang tepat (screen zone), serta memberi jeda istirahat (screen break).
Dengan penerapan budaya aman, sehat, dan disiplin sejak dini, diharapkan lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang mendukung tumbuh kembang generasi muda Indonesia secara optimal.