CNAF

CNAF Bidik Laba Sebelum Pajak Rp552 Miliar pada 2026, Andalkan Digitalisasi dan Pemulihan Pasar

CNAF Bidik Laba Sebelum Pajak Rp552 Miliar pada 2026, Andalkan Digitalisasi dan Pemulihan Pasar
CNAF Bidik Laba Sebelum Pajak Rp552 Miliar pada 2026, Andalkan Digitalisasi dan Pemulihan Pasar

JAKARTA — Optimisme pelaku industri pembiayaan masih terjaga meskipun tekanan ekonomi global dan domestik belum sepenuhnya mereda. 

PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) menjadi salah satu perusahaan yang menatap 2026 dengan target pertumbuhan yang terukur. Perusahaan pembiayaan ini membidik laba sebelum pajak atau profit before tax (PBT) sebesar Rp552 miliar pada tahun depan, seiring dengan strategi efisiensi dan pemanfaatan peluang regulasi yang semakin terbuka.

Target tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman, yang menilai bahwa meski tantangan masih ada, ruang untuk tumbuh tetap tersedia apabila perusahaan mampu menjalankan strategi secara tepat dan adaptif.

Strategi Digitalisasi Jadi Fokus Utama

Untuk mengejar target laba sebelum pajak tersebut, CNAF akan mengandalkan optimalisasi digitalisasi proses pembiayaan. Ristiawan menegaskan bahwa digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendasar dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan kepada nasabah.

Salah satu fokus utama adalah mempercepat proses pengajuan pembiayaan melalui penyederhanaan alur administrasi dan dokumen nasabah. Dengan proses yang lebih ringkas dan cepat, CNAF berharap dapat meningkatkan pengalaman pelanggan sekaligus memperluas potensi penyaluran pembiayaan.

“Dengan demikian, akan makin memudahkan nasabah untuk proses pengajuan pembiayaan di CNAF,” kata Ristiawan.

Digitalisasi ini juga dinilai dapat menekan biaya operasional perusahaan, meningkatkan akurasi penilaian kredit, serta mempercepat pengambilan keputusan pembiayaan. Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, langkah tersebut menjadi kunci untuk menjaga daya saing perusahaan.

Harapan Pemulihan Daya Beli dan Dukungan Pemerintah

Selain dari sisi internal, CNAF juga menaruh harapan pada perbaikan kondisi eksternal. Ristiawan menyebut bahwa pemulihan daya beli masyarakat akan sangat menentukan kinerja penyaluran pembiayaan sepanjang 2026.

Menurutnya, apabila kondisi pasar membaik dan konsumsi masyarakat kembali pulih, maka potensi pertumbuhan pembiayaan akan terbuka lebih lebar. Dalam konteks ini, peran pemerintah menjadi krusial, terutama dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional melalui berbagai kebijakan fiskal dan stimulus.

Dengan daya beli yang membaik, CNAF optimistis dapat menyalurkan pembiayaan secara lebih maksimal, terutama pada segmen pembiayaan kendaraan yang masih menjadi core business perusahaan.

Peluang dari Relaksasi Aturan OJK

Di tengah tantangan ekonomi, CNAF melihat adanya peluang dari sisi regulasi. Ristiawan menilai bahwa kelonggaran aturan dalam sejumlah Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) dapat menjadi ruang gerak bagi perusahaan pembiayaan untuk lebih fleksibel dalam menyalurkan kredit.

Ruang fleksibilitas tersebut memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan strategi pembiayaan dengan kondisi pasar tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Dengan regulasi yang lebih adaptif, CNAF melihat potensi untuk menjaga pertumbuhan kinerja meskipun situasi ekonomi belum sepenuhnya stabil.

“Hal itu dapat menjadi ruang bagi perusahaan pembiayaan untuk lebih fleksibel dalam menyalurkan pembiayaan,” tuturnya.

Relaksasi aturan ini diharapkan mampu menjaga momentum industri pembiayaan agar tetap bergerak, sekaligus menghindari kontraksi yang terlalu dalam akibat tekanan ekonomi.

Tantangan Global dan Domestik Masih Membayangi

Meski optimistis, manajemen CNAF tetap realistis dalam memandang tantangan ke depan. Ristiawan mengakui bahwa konflik geopolitik yang masih memanas di berbagai kawasan dunia, ketidakpastian makroekonomi global, serta prediksi lambatnya pemulihan daya beli masyarakat berpotensi menjadi hambatan sepanjang 2026.

Tekanan eksternal tersebut dapat berdampak pada stabilitas pasar keuangan, nilai tukar, serta kepercayaan konsumen. Oleh karena itu, CNAF menilai pentingnya kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan agar kualitas aset tetap terjaga.

Perusahaan juga dituntut untuk mampu menyeimbangkan antara ekspansi bisnis dan pengelolaan risiko, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Kinerja 2025 Jadi Evaluasi Menuju 2026

Sebagai bahan evaluasi, CNAF mencatat laba sebelum pajak pada 2025 sebesar Rp440 miliar (unaudited). Capaian tersebut mengalami penurunan sekitar 20% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp570 miliar.

Ristiawan menjelaskan bahwa penurunan kinerja tersebut tidak terlepas dari kondisi pasar yang menantang sepanjang 2025. Daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya dinilai berdampak langsung pada permintaan pembiayaan, sekaligus memengaruhi kemampuan bayar nasabah.

“Kondisi market yang cukup menantang sepanjang 2025, serta daya beli masyarakat belum pulih dan linear dengan daya bayar mereka,” ujarnya.

Meski demikian, capaian tersebut menjadi pijakan bagi CNAF untuk menyusun strategi yang lebih tajam pada 2026. Dengan mengombinasikan digitalisasi, pemanfaatan peluang regulasi, serta antisipasi risiko eksternal, CNAF berharap target laba sebelum pajak Rp552 miliar dapat tercapai.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index