JAKARTA - Pasca-banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Barat, khususnya Kota Padang, proses belajar mengajar kembali berjalan dengan semangat tinggi.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Prof. Atip Latipulhayat, meninjau secara langsung kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMA Negeri 12 Kota Padang. Kehadirannya tidak hanya sekadar meninjau kesiapan sekolah, tetapi juga untuk memotivasi siswa dan guru agar bangkit dari bencana.
“Pertama, perlu saya sampaikan bahwa kedatangan kami ke sini untuk menandai dimulainya pembelajaran di tiga provinsi terdampak bencana terutama di Kota Padang,” ujar Prof Atip.
Menurutnya, dimulainya KBM di sekolah terdampak bencana merupakan simbol ketahanan pendidikan. Anak didik diajak untuk memandang musibah sebagai pengalaman yang memperkuat semangat belajar dan mendorong pencapaian cita-cita akademik.
Upacara Bendera dan Pesan Semangat
Kunjungan Prof Atip diawali dengan Upacara Bendera di SMA Negeri 12, dimana ia bertindak sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, Wamendikdasmen menekankan agar guru dan siswa tidak patah semangat meski menghadapi situasi darurat pascabencana.
“Kami datang ke Padang untuk melihat dan memastikan kesiapan pembelajaran awal tahun ini,” tambahnya.
Upacara ini bukan sekadar formalitas, melainkan momentum untuk menanamkan mental kuat bagi siswa. Prof Atip menekankan pentingnya optimisme dan keberanian untuk memulai kembali proses belajar di tengah keterbatasan fasilitas akibat bencana.
Memeriksa Fasilitas Sekolah Pascabencana
Setelah upacara, Wamendikdasmen meninjau beberapa ruang kelas yang terdampak banjir dan longsor. Ia mengecek kondisi fisik sekolah, memastikan fasilitas yang rusak tetap bisa digunakan atau diperbaiki secepatnya.
Kunjungan ini juga menjadi sarana memberikan dukungan moral kepada guru dan staf sekolah, agar mereka tetap sigap dalam menghadapi tantangan pascabencana.
Selain meninjau kondisi sekolah, kementerian terkait menyalurkan bantuan uang tunai senilai Rp15 juta per sekolah untuk tingkat SD, SMP, dan SMA. Bantuan ini diharapkan bisa mempercepat pemulihan fasilitas dan mendukung kelancaran KBM.
“Alhamdulillah dengan berbagai keterbatasan yang ada, proses pembelajaran bisa kita mulai dan harus kita mulai,” ujar Prof Atip.
Bantuan Tambahan untuk Siswa
Tidak hanya membantu fasilitas sekolah, anak didik juga menerima bingkisan berupa alat tulis, makanan ringan, dan perlengkapan pendukung pembelajaran. Langkah ini bertujuan untuk mempermudah siswa kembali fokus belajar dan mengurangi beban psikologis setelah menghadapi musibah.
Prof Atip menekankan bahwa perhatian terhadap kebutuhan materi dan psikologis siswa sama pentingnya dengan perbaikan fasilitas. Dengan kombinasi ini, sekolah dapat berfungsi optimal meskipun pascabencana.
Data Dampak Bencana pada Pendidikan
Berdasarkan data per 4 Januari 2025, tercatat 4.470 satuan pendidikan terdampak bencana di Sumatera, dengan kerusakan yang bervariasi dari ringan hingga total.
Provinsi Aceh menjadi wilayah terdampak terbesar dengan 2.756 sekolah mengalami dampak banjir dan longsor. Sumatera Utara sebanyak 1.213 sekolah, sementara Ranah Minang (Padang) sebanyak 501 sekolah.
Angka ini menunjukkan skala tantangan yang dihadapi pemerintah dan masyarakat dalam memulihkan pendidikan. Meski begitu, Prof Atip menekankan bahwa pendidikan harus tetap berjalan sebagai prioritas utama.
Pendidikan sebagai Benteng Ketahanan Bangsa
Prof Atip mengingatkan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang telah teruji dalam menghadapi berbagai bencana dan tantangan berat. Oleh karena itu, kondisi darurat saat ini tidak boleh menjadi alasan untuk menunda atau menghambat tujuan pendidikan.
Pendekatan ini menekankan pentingnya ketahanan mental dan semangat belajar sebagai bagian dari pembangunan bangsa, terutama bagi generasi muda yang terdampak langsung oleh bencana.
Semangat Baru untuk Guru dan Siswa
Kunjungan ini juga dimaksudkan sebagai dukungan moral kepada guru, agar tetap berkomitmen mendidik meski menghadapi keterbatasan. Guru menjadi figur sentral yang membantu siswa memulihkan rutinitas belajar dan memotivasi mereka untuk tetap optimis.
Menurut Prof Atip, sekolah yang mulai beroperasi kembali menjadi simbol kebangkitan pendidikan dan ketahanan komunitas. Kehadiran Wamendikdasmen di lapangan menjadi dorongan nyata bahwa pemerintah mengawal proses belajar secara langsung, bukan hanya melalui kebijakan di atas kertas.
Pendidikan Harus Terus Berjalan
Kunjungan Wamendikdasmen ke SMA Negeri 12 Kota Padang menegaskan komitmen pemerintah untuk memprioritaskan pendidikan pascabencana. Dimulainya KBM, bantuan fasilitas, serta dukungan moral kepada guru dan siswa merupakan langkah nyata dalam memastikan proses belajar tidak terhenti.
Prof Atip mengajak semua pihak, termasuk masyarakat dan orang tua, untuk mendukung kelancaran pendidikan di tengah kondisi darurat. Dengan semangat bersama, anak-anak dapat bangkit dari musibah, mencapai prestasi, dan mewujudkan cita-cita mereka meski menghadapi tantangan besar.