JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa kinerja ekspor Indonesia pada Februari 2025 mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 14,05% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Lonjakan ekspor ini diperkirakan akan berdampak positif terhadap industri asuransi pengangkutan barang melalui laut atau marine cargo insurance, seiring dengan meningkatnya kebutuhan perlindungan pengiriman barang di tengah dinamika perdagangan global.
Chief Financial Officer PT Zurich Asuransi Indonesia, Musi Samosir, menilai bahwa peningkatan aktivitas ekspor akan mendorong permintaan terhadap asuransi marine cargo. “Kami optimistis tren ini akan berlanjut sepanjang tahun, dan kami siap mendukung eksportir dengan solusi asuransi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka,” ujarnya kepada Kontan.
Peningkatan Kebutuhan Proteksi di Tengah Fluktuasi Biaya Logistik
Menurut Musi, fluktuasi biaya logistik dan risiko dalam rantai pasok membuat eksportir dan importir semakin membutuhkan perlindungan asuransi untuk mengantisipasi potensi kerusakan atau kehilangan barang, baik dalam pengiriman ekspor maupun domestik. “Prospek asuransi marine cargo tahun ini tetap positif, seiring dengan tingginya kebutuhan proteksi,” tambahnya.
Zurich Asuransi Indonesia mencatat pertumbuhan premi dari lini asuransi marine cargo sebesar 60% secara YoY per Februari 2025. Secara keseluruhan, perusahaan membukukan pendapatan premi sebesar Rp 635,12 miliar hingga periode tersebut.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh PT Great Eastern General Insurance Indonesia (GEGI). Marketing Director GEGI, Linggawati Tok, menyebutkan bahwa peningkatan ekspor pada Februari 2025 menjadi angin segar bagi industri asuransi marine cargo. “Bukan hanya ekspor yang naik 14,05% YoY, volume impor juga tumbuh 2,30% YoY pada Februari 2025. Kami yakin peningkatan ini akan berdampak positif pada perolehan premi marine cargo, terutama jika nilai tukar rupiah tetap stabil,” ujarnya.
Tantangan dalam Industri Asuransi Marine Cargo
Meski prospek industri asuransi marine cargo tampak cerah, Linggawati mengingatkan bahwa ada beberapa tantangan yang dapat menghambat pertumbuhannya. Salah satu faktor utama adalah penurunan daya beli masyarakat yang dapat menekan volume pengiriman barang dalam negeri dan secara langsung mempengaruhi permintaan asuransi marine cargo.
Selain itu, kondisi ekonomi global yang tidak menentu, perang tarif, serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi tantangan tersendiri. “Ketika biaya impor meningkat, pelaku usaha cenderung mengurangi perlindungan asuransi demi menekan biaya,” tambahnya.
Pada tahun sebelumnya, GEGI membukukan pendapatan premi dari asuransi marine cargo sebesar Rp 102 miliar, tumbuh 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun ini, perusahaan menargetkan pendapatan premi sebesar Rp 109 miliar.
Optimisme di Tengah Momentum Pertumbuhan Ekspor
Presiden Direktur PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance), Tatang Nurhidayat, turut menyoroti dampak positif dari kenaikan ekspor terhadap industri asuransi marine cargo. “Kenaikan ekspor diharapkan dapat meningkatkan kebutuhan perlindungan risiko kerugian atau kerusakan barang yang dikirim melalui jalur laut,” ujarnya.
Lebih lanjut, Tatang menambahkan bahwa momentum pertumbuhan ekspor ini juga membuka peluang bagi Tugu Insurance untuk memperluas jaringan bisnis di segmen asuransi pengangkutan dan meningkatkan pendapatan premi. Per Februari 2025, Tugu Insurance mencatatkan pertumbuhan premi dari asuransi marine cargo sebesar 49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan tren ekspor yang terus meningkat dan kebutuhan akan perlindungan pengiriman barang yang semakin besar, industri asuransi marine cargo diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa bulan ke depan. Namun, tantangan ekonomi global dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh para pelaku industri.
Seiring dengan meningkatnya kesadaran eksportir akan pentingnya proteksi dalam rantai pasok global, asuransi marine cargo diharapkan mampu menjadi solusi strategis dalam mendukung kelancaran perdagangan internasional Indonesia.