JAKARTA – Bursa saham Asia dibuka menguat pada awal perdagangan hari ini, Rabu, 26 Maret 2025, seiring dengan reli yang terjadi di Wall Street semalam. Pada pukul 08.21 WIB, indeks Nikkei 225 tercatat naik 0,6% ke level 38.007,09, sedangkan indeks Hang Seng menguat 0,5% ke angka 23.460,31. Kenaikan serupa juga terlihat di beberapa bursa utama Asia lainnya.
Indeks Taiex di Taiwan menguat 0,34% ke level 22.349,1, sedangkan indeks Kospi di Korea Selatan naik 0,42% ke angka 2.626,71. Bursa saham Australia, ASX 200, juga tercatat mengalami kenaikan signifikan sebesar 0,84%, dengan indeks berada di level 8.009,3.
Di sisi lain, meskipun mengalami kenaikan, beberapa bursa lainnya mencatatkan penguatan yang lebih tipis. FTSE Straits Times di Singapura hanya naik 0,04% ke angka 3.956,19, sementara FTSE Malaysia menguat 0,28% ke level 1.517,83.
Sentimen Positif dari Wall Street Membuat Bursa Asia Menguat
Kenaikan yang terjadi di bursa Asia pagi ini sejalan dengan penguatan yang tercatat di Wall Street pada sesi perdagangan sebelumnya. Pasar saham AS didorong oleh ekspektasi bahwa kebijakan tarif yang akan diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump bisa lebih lunak dari yang sebelumnya diperkirakan. Berdasarkan laporan dari The Wall Street Journal dan Bloomberg, tarif yang direncanakan Gedung Putih untuk diterapkan pada 2 April 2025 mendatang diharapkan tidak akan terlalu luas cakupannya.
Menurut laporan tersebut, tarif yang lebih terbatas ini memberikan optimisme pasar, terutama di Asia yang memiliki hubungan dagang erat dengan Amerika Serikat. Hal ini membantu meningkatkan sentimen positif di kalangan investor global, termasuk di pasar saham Asia.
Presiden Trump pada hari Jumat juga sempat mengungkapkan bahwa ia mungkin memberikan "fleksibilitas" terkait rencana tarif timbal baliknya terhadap mitra dagang. Pernyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat reli pasar saham global.
Risiko di Amerika Serikat Terhadap Ekonomi Domestik
Namun, meskipun pasar saham global mengalami penguatan, terdapat peringatan terkait kondisi ekonomi domestik di Amerika Serikat. Morning Consult, dalam catatannya, menyebutkan bahwa meskipun pasar saham mengalami kenaikan, konsumen AS mulai merasa lelah dengan inflasi yang terus meningkat, keuangan pribadi yang semakin rapuh, dan risiko yang lebih tinggi di pasar tenaga kerja.
"Ketika Presiden Trump bersiap untuk meningkatkan perang dagang minggu depan, konsumen AS semakin lelah dengan inflasi, keuangan mereka semakin rapuh, dan mereka menghadapi risiko yang lebih tinggi di pasar tenaga kerja," tulis Morning Consult, seraya menambahkan bahwa diperkirakan konsumen AS akan memangkas pengeluarannya di semua golongan pendapatan.
Penurunan pengeluaran konsumen ini dapat memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi AS di masa mendatang, terutama jika perang dagang yang semakin intensif berlanjut. Meski begitu, pasar saham tetap mencatatkan penguatan dalam beberapa hari terakhir, berkat harapan bahwa tarif yang diterapkan tidak akan terlalu besar dan dapat diminimalisir.
Kenaikan Bursa Wall Street Berlanjut
Sementara itu, pada sesi perdagangan sebelumnya, ketiga indeks utama Wall Street berhasil ditutup lebih tinggi. Indeks S&P 500 membukukan kenaikan tipis sebesar 0,16%, berakhir pada level 5.776,65. Begitu pula dengan Nasdaq Composite, yang naik sebesar 0,46% dan ditutup di level 18.271,86. Indeks Dow Jones Industrial Average pun mengalami kenaikan meskipun tipis, hanya naik 4,18 poin atau 0,01%, dengan ditutup pada angka 42.587,50.
Meskipun kenaikan pada bursa Asia pagi ini sebagian besar dipengaruhi oleh sentimen positif dari Wall Street, para investor tetap cermat memantau perkembangan kebijakan tarif AS yang akan mempengaruhi perdagangan global dalam beberapa minggu mendatang. Perang dagang yang berkelanjutan antara Amerika Serikat dan negara-negara mitra dagangnya, khususnya China, tetap menjadi faktor risiko yang dapat mempengaruhi arah pasar.
Bursa saham Asia menguat pada pagi hari ini, mengikuti reli yang terjadi di Wall Street, didorong oleh ekspektasi bahwa kebijakan tarif yang akan diterapkan oleh AS bisa lebih lunak dari yang diperkirakan sebelumnya. Namun, meskipun ada optimisme, konsumen AS mulai merasakan dampak inflasi yang tinggi dan ketidakpastian di pasar tenaga kerja. Para investor pun tetap memperhatikan perkembangan perang dagang yang dapat mempengaruhi perekonomian global.
Dengan sentimen yang terjaga positif, bursa saham Asia, termasuk Indonesia, diharapkan dapat melanjutkan penguatan ini sepanjang hari ini, sambil menantikan kabar terbaru dari kebijakan ekonomi AS yang bisa mempengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.