JAKARTA - Gempa bumi mengguncang wilayah tenggara Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara, pada Rabu pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena ini disebabkan oleh aktivitas subduksi Sangihe di wilayah tersebut.
Penyebab Gempa Bumi
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyatakan bahwa gempa ini adalah jenis gempa bumi dangkal. "Apabila memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi Sangihe," ujar Daryono dalam laporan yang diterima di Manado pada Rabu.
Subduksi Sangihe terjadi ketika Lempeng Laut Filipina bergerak ke bawah Lempeng Eurasia, yang sering kali menjadi penyebab gempa di wilayah tersebut. Akibat pergeseran ini, energi terkumpul dan dilepaskan dalam bentuk gempa.
Analisis Mekanisme
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan geser atau strike-slip. Ini berarti bahwa retakan terjadi karena pergerakan horizontal di antara lempeng-lempeng tersebut.
Dampak Gempa
Gempa ini dirasakan di berbagai daerah Sulawesi Utara, termasuk Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Selatan, dan Minahasa Tenggara dengan skala intensitas IV MMI. Pada intensitas ini, getaran dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah saat siang hari.
Di wilayah Manado, Minahasa, Minahasa Utara, Kotamobagu, Gorontalo, Minahasa Selatan, Bitung, dan Gorontalo Utara, gempa terasa dengan skala intensitas III MMI. Di sini, getaran dirasakan nyata di dalam rumah, terasa seakan-akan truk berlalu.
Adapun di Boalemo, Taliabu, dan Tagulandang, intensitas gempa mencapai skala II - III MMI, dengan getaran yang juga terasa di dalam rumah.
"Masyarakat diharapkan tetap waspada, namun tidak perlu panik, karena gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami," kata Daryono menenangkan warga yang khawatir akibat gempa tersebut.
Tindak Lanjut dari BMKG
Setelah terjadi gempa utama, BMKG melaporkan adanya tujuh aktivitas gempa susulan (aftershock) hingga pukul 07.00 WIB, dengan magnitudo terbesar mencapai 4,9. Meskipun tidak ada laporan kerusakan signifikan, BMKG tetap memantau situasi secara intensif.
Untuk sementara, BMKG menegaskan bahwa belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan dan terus memantau kejadian ini.
Imbauan Bagi Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Daryono menegaskan, "Masyarakat diharapkan menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa."
Informasi mengenai gempa ini diperbarui secara berkala, dan masyarakat diharapkan mendapatkan informasi hanya dari sumber yang terpercaya untuk menghindari berita hoax atau desas-desus yang tidak berdasar.
Pentingnya Kesiapsiagaan Bencana
Gempa bumi merupakan fenomena alam yang kerap terjadi di Indonesia, termasuk di kawasan Sulawesi Utara. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Warga di daerah rawan gempa harus mengetahui langkah-langkah keselamatan, seperti berlindung di bawah meja atau menjauh dari jendela dan barang-barang yang berpotensi jatuh selama gempa.
Pemerintah daerah dan nasional juga diharapkan untuk terus meningkatkan infrastruktur dan sistem peringatan dini agar dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana semacam ini.