Kemenkes

Lonjakan Kasus Campak, Kemenkes Ingatkan Lengkapi Imunisasi Anak

Lonjakan Kasus Campak, Kemenkes Ingatkan Lengkapi Imunisasi Anak
Lonjakan Kasus Campak, Kemenkes Ingatkan Lengkapi Imunisasi Anak

JAKARTA - Kasus campak di berbagai daerah Indonesia menunjukkan tren kenaikan yang memprihatinkan, mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk kembali menegaskan pentingnya imunisasi bagi anak-anak. Penyakit yang mudah menular ini tidak boleh dianggap sepele karena komplikasinya dapat berakibat serius, bahkan fatal, bila tidak ditangani atau dicegah sejak dini.

Komite Ahli Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi, Prof. Anggraini Alam, menekankan bahwa campak bukan sekadar penyakit ringan yang hilang dengan sendirinya. “Campak dapat menimbulkan komplikasi berat seperti pneumonia, diare, radang otak, hingga penyakit saraf fatal (SSPE). Karena itu imunisasi harus diberikan tepat waktu. Bila belum lengkap, segera lengkapi tanpa menunggu ada kasus di sekitar,” tegas Prof. Anggraini. Pernyataan ini sekaligus menjadi peringatan bagi orang tua agar tidak menunda imunisasi MR (Measles-Rubella), yang menjadi benteng utama dalam membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.

Imunisasi Tepat Waktu: Benteng Perlindungan Anak

Direktur Imunisasi Kemenkes, Prima Yosephine, menjelaskan bahwa imunisasi MR dosis pertama diberikan pada usia 9 bulan dan dosis kedua pada 18 bulan. Pemberian sesuai jadwal ini menjadi kunci untuk menahan penyebaran virus campak di masyarakat. Namun, tren penurunan cakupan imunisasi beberapa tahun terakhir mengkhawatirkan, yang berdampak langsung pada meningkatnya jumlah kasus campak.

“Kalau kita bisa menjaga cakupan imunisasi tetap di atas 95 persen, rantai penularan bisa diputus. Itu harus menjadi komitmen bersama,” ujar Prima. Sayangnya, data Kemenkes menunjukkan bahwa cakupan imunisasi masih jauh dari target. Pada 2024, cakupan MR1 hanya mencapai 92 persen, sementara MR2 sebesar 82,3 persen. Kondisi ini membuka celah besar bagi virus untuk menyebar di kalangan anak-anak yang belum terlindungi.

Sumenep Jadi Sorotan Lonjakan Kasus

Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kini menjadi sorotan karena peningkatan kasus campak yang cukup signifikan. Sejak kasus pertama terdeteksi Agustus 2024, jumlah pasien terus bertambah hingga 26 Agustus 2025 tercatat sebanyak 2.139 kasus suspek dan 205 kasus terkonfirmasi laboratorium. Mayoritas pasien adalah anak-anak balita dan usia sekolah dasar.

Kepala Dinas Kesehatan Sumenep, drg. Ellya Fardasah, memaparkan bahwa rentang usia terbanyak terkena campak adalah 1–4 tahun, sebanyak 53 persen, diikuti anak usia 5–9 tahun sebesar 29 persen. “Angka ini menjadi alarm bahwa anak-anak harus segera mendapatkan perlindungan melalui imunisasi MR,” jelas drg. Ellya.

Untuk menanggulangi lonjakan kasus, Kemenkes bekerja sama dengan WHO, Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten, serta pemangku kepentingan terkait, melakukan langkah-langkah strategis. Program yang dijalankan meliputi penyelidikan epidemiologi, advokasi lintas sektor, serta pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) bagi anak-anak berusia 9 bulan hingga 6 tahun. Pendekatan ini diharapkan mampu menekan penyebaran virus dengan cepat sekaligus mencegah komplikasi yang lebih serius.

Vaksin Campak: Aman, Gratis, dan Efektif

Kemenkes menegaskan bahwa vaksin campak aman dan bermutu tinggi. Program imunisasi ini disediakan secara gratis melalui posyandu, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya. Orang tua diimbau untuk segera membawa anak-anaknya melengkapi imunisasi rutin maupun tambahan agar kekebalan anak terjaga optimal.

Selain imunisasi, masyarakat juga perlu waspada terhadap gejala campak, seperti demam, bercak merah pada kulit, batuk, pilek, dan mata merah. Jika anak terinfeksi, isolasi di rumah dengan dukungan asupan gizi seimbang menjadi langkah penting untuk mempercepat pemulihan. Kesadaran orang tua dalam mengenali gejala sejak dini juga menjadi faktor penting dalam menekan penyebaran penyakit.

Peran Orang Tua dan Masyarakat Sangat Penting

Keberhasilan program imunisasi dan pengendalian penyakit campak tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat. “Kunci keberhasilan ada pada keterlibatan semua pihak. Dukungan orang tua dan masyarakat akan menentukan apakah Indonesia bisa menekan penyebaran campak dan melahirkan generasi sehat bebas penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” pungkas Prima Yosephine.

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya imunisasi dan langkah-langkah cepat dari pemerintah, diharapkan lonjakan kasus campak dapat dikendalikan. Orang tua kini diingatkan untuk tidak menunda imunisasi, menjaga anak-anak tetap sehat, dan melindungi generasi dari penyakit yang bisa dicegah. Imunisasi tepat waktu tetap menjadi benteng utama melawan campak di Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index