Guyana Raup Untung Besar dari Perang Iran, Ketegangan dengan Venezuela Meningkat

Sabtu, 19 September 2026 | 16:08:00 WIB
Guyana Raup Untung Besar dari Perang Iran, Ketegangan dengan Venezuela Meningkat

BISNISINSIGHT.COM — Guyana menikmati lonjakan pendapatan minyak yang signifikan akibat perang di Iran, tetapi boom ekonomi ini justru memperlebar ketegangan dengan Venezuela dan memperdalam masalah korupsi serta ketimpangan di dalam negeri. Negara kecil di Amerika Selatan itu kini berada di pusaran persaingan geopolitik yang jauh lebih besar dari ukuran wilayahnya.

Guyana, negara berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa di Amerika Selatan, mencatat pertumbuhan ekonomi salah satu yang tercepat di dunia berkat produksi minyak lepas pantainya. Konflik di Iran dan ketidakstabilan di Timur Tengah mendorong harga minyak global naik, dan Georgetown menerima berkah tak terduga dari situasi itu.

Namun, ledakan pendapatan minyak membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Ketegangan dengan Venezuela atas wilayah Essequibo kembali memanas, sementara di dalam negeri, tuduhan korupsi dan ketimpangan ekonomi semakin keras disuarakan.

Berkah Minyak dari Ketegangan Timur Tengah

Produksi minyak Guyana melonjak sejak perusahaan-perusahaan energi internasional mulai mengeksploitasi cadangan di lepas pantai blok Stabroek. Ketika perang di Iran mengganggu pasokan global, permintaan terhadap minyak Guyana meningkat dan harga jual melambung.

Pemerintah Guyana mengklaim pendapatan negara dari sektor minyak mencapai rekor baru. Dana itu digunakan untuk membangun infrastruktur, sekolah, dan rumah sakit di wilayah pedalaman yang sebelumnya terabaikan.

Ekonom lokal memperingatkan bahwa ketergantungan pada satu komoditas membuat Guyana rentan terhadap gejolak harga global. "Kami tidak bisa hanya bersandar pada minyak selamanya," kata seorang analis ekonomi di Georgetown, seperti dikutip media regional.

Essequibo: Wilayah Sengketa yang Kian Panas

Venezuela lama mengklaim wilayah Essequibo, yang mencakup sekitar dua pertiga luas daratan Guyana. Sengketa ini sudah berlangsung lebih dari satu abad, tetapi penemuan cadangan minyak di perairan sekitar Essequibo membuat konflik semakin tajam.

Caracas menuduh Georgetown memberikan konsesi minyak di wilayah yang masih disengketakan. Pemerintah Venezuela menegaskan klaimnya atas Essequibo tidak bisa diganggu gugat, sementara Guyana bersikeras wilayah itu adalah bagian sah dari teritorinya berdasarkan putusan arbitrase 1899.

Militer Venezuela menggelar latihan di perbatasan, memicu kekhawatiran akan eskalasi. Guyana, yang militernya jauh lebih kecil, mengandalkan dukungan diplomatik dari Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Karibia.

Korupsi dan Ketimpangan di Balik Gemerlap Minyak

Di ibu kota Georgetown, gedung-gedung baru bermunculan dan jalan raya diperlebar. Tetapi di pinggiran kota, warga mengeluh bahwa kekayaan minyak belum menyentuh kehidupan mereka.

Oposisi menuduh pemerintah menyalurkan kontrak kepada kroni dan tidak transparan dalam pengelolaan dana minyak. Pemerintah membantah tuduhan itu dan menyatakan audit independen telah dilakukan.

Lembaga antikorupsi internasional mencatat Guyana masih menghadapi masalah tata kelola yang serius. Ketimpangan pendapatan melebar antara elite politik dan masyarakat adat di pedalaman yang tanahnya terdampak proyek minyak.

Posisi Guyana di Tengah Persaingan Besar

Guyana berusaha menyeimbangkan hubungan dengan Amerika Serikat, China, dan negara-negara Eropa yang berkepentingan atas minyaknya. Georgetown juga aktif di forum CARICOM untuk mencari dukungan menghadapi klaim Venezuela.

Bagi Indonesia, perkembangan di Guyana tidak berdampak langsung. Namun, kenaikan harga minyak global akibat ketegangan di Timur Tengah dan Venezuela tetap memengaruhi harga energi domestik serta anggaran subsidi.

Yang ditunggu sekarang adalah apakah sengketa Essequibo akan dibawa ke Mahkamah Internasional atau diselesaikan lewat jalur diplomasi. Kedua pihak menyatakan terbuka pada mediasi, tetapi belum ada jadwal perundingan resmi.

Terkini