Bisnis Ramah Lingkungan Dimulai dari Masalah Terdekat, Ini 5 Langkahnya

Sabtu, 19 September 2026 | 15:46:00 WIB
Bisnis Ramah Lingkungan Dimulai dari Masalah Terdekat, Ini 5 Langkahnya

BISNISINSIGHT.COM — Pelaku usaha yang ingin membangun bisnis ramah lingkungan tidak harus menunggu teknologi canggih. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan 317 kabupaten/kota menghasilkan sekitar 34,21 juta ton sampah pada 2024, dan 40,26% di antaranya belum terkelola. Celah itulah yang bisa diubah menjadi peluang usaha.

Konsep keberlanjutan dalam bisnis tidak lagi identik dengan kemasan tanpa plastik atau produk daur ulang semata. Menurut panduan Shopify, prinsip ramah lingkungan sebaiknya sudah dipikirkan sejak awal usaha berdiri, karena akan memengaruhi desain produk, pemilihan pemasok, strategi harga, kemasan, pengiriman, hingga pemasaran.

Di Indonesia, persoalan sampah masih jadi tantangan besar. Dari 34,21 juta ton sampah yang dihasilkan 317 kabupaten/kota sepanjang 2024, sekitar 13,77 juta ton tercatat belum terkelola. Angka itu sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha yang ingin menyasar konsumen dengan kepedulian tinggi pada lingkungan.

Mulai dari Masalah Lingkungan di Sekitar

Memulai bisnis ramah lingkungan tak perlu terobosan teknologi terbaru. Pelaku usaha bisa mengamati persoalan yang ada di sekitarnya, lalu menawarkan solusi yang punya nilai ekonomi.

Beberapa model yang bisa dipertimbangkan antara lain menjual produk dari material bekas yang tetap fungsional, barang refurbished, layanan sewa, hingga produksi berdasarkan pesanan agar tidak menumpuk stok dan menambah limbah. Shopify juga menyebut lini usaha seperti produk isi ulang, pakaian vintage, dan produk berbahan daur ulang sebagai opsi yang layak dicoba.

Jangan Korbankan Fungsi demi Label Hijau

Produk berlabel sustainability tetap harus menjawab kebutuhan konsumen. Performa dan fungsinya mesti baik, sekaligus masuk akal dari sisi harga.

Karena itu, pelaku usaha perlu menghitung lebih dulu biaya bahan baku, produksi, dan distribusi sebelum menetapkan harga jual. Konsep ramah lingkungan tidak akan menolong kelancaran bisnis bila produknya sulit dipakai dan harganya terlalu tinggi di pasaran.

Perhatikan Asal Bahan Baku

Setelah ide dan skema bisnis ditentukan, langkah berikutnya adalah menelusuri dari mana bahan baku berasal. Memilih pemasok lokal dapat memangkas jarak distribusi sekaligus memberi nilai tambah pada pemberdayaan masyarakat setempat.

Keberlanjutan Bukan Hanya Soal Kemasan

Mengganti kemasan plastik dengan bahan lain sering dianggap sebagai satu-satunya jalan menerapkan bisnis ramah lingkungan. Padahal prinsip keberlanjutan bisa diterapkan lebih luas, mulai dari proses produksi, pengiriman, sampai pertimbangan masa pakai produk.

Di Indonesia, pemerintah mengatur pengurangan sampah produksi lewat Permen LHK No. 75 Tahun 2019. Regulasi itu mendorong pelaku usaha memangkas sampah kemasan dan wadah produk hingga 30 persen. Pelaku usaha pun bisa mulai memikirkan bagaimana produknya digunakan kembali, diperbaiki, diisi ulang, atau didaur ulang setelah masa pakainya berakhir.

Desain Produk agar Lebih Awet

Produk yang cepat rusak berpotensi menghasilkan lebih banyak sampah. Sebaliknya, desain yang memungkinkan produk diperbaiki atau dipakai lebih lama dapat memperpanjang siklus hidupnya.

Model bisnisnya bisa dikembangkan melalui program tukar tambah, perbaikan, penjualan kembali barang bekas, hingga penyewaan. Shopify mencontohkan sejumlah usaha yang menerapkan strategi tersebut untuk memperpanjang usia produk sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan.

Bagi pelaku usaha di Indonesia, kombinasi antara masalah sampah yang belum tuntas dan konsumen yang makin sadar lingkungan membuat ceruk pasar ini masih terbuka lebar. Kuncinya ada pada solusi yang benar-benar berfungsi, bukan sekadar label hijau di kemasan.

Terkini