JAKARTA — Serangkaian kegiatan public expose live yang berlangsung dari tanggal 7 September hingga 11 September 2026 rupanya sama sekali tidak mampu mengerek kinerja indeks komposit. Sepanjang periode waktu ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat mengalami penurunan sebesar 1,43%.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menjelaskan bahwa serangkaian public expose live sebenarnya memang dapat berfungsi sebagai katalis positif, terutama secara stock-specific. Hal tersebut dikarenakan para investor bisa mendapatkan pembaruan informasi terkini terkait kinerja, panduan (guidance), rencana ekspansi, maupun aksi korporasi (corporate action) dari emiten.
"Namun menurut kami dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan relatif terbatas. Arah indeks akan lebih banyak ditentukan oleh kebijakan bank sentral global dan BI, pergerakan rupiah dan UST yield, foreign flow, serta harga komoditas," kata Harry, dikutip Jumat (11/9/2026).
Adapun, bulan September secara historis memang kerap kali menjadi periode koreksi bulanan bagi pergerakan IHSG. Fenomena musiman ini sudah lama dikenal luas sebagai September Effect. Harry menilai untuk bulan September 2026 ini, IHSG berpotensi bergerak secara volatil dengan kecenderungan bias netral hingga positif.
Menurut pandangannya, pelemahan musiman (seasonal weakness) tersebut memang patut dicermati secara seksama, terlebuh mengingat kondisi sebelumnya di mana IHSG sempat mencatatkan penguatan yang cukup signifikan pada Agustus, sehingga membuka ruang lebar bagi aksi ambil untung (profit taking). Kendati demikian, faktor fundamental domestik menurutnya masih terbilang cukup kuat dalam menopang pasar saham.
"Risiko utama berasal dari potensi kebijakan The Fed yang lebih hawkish, kenaikan UST yield, tekanan rupiah, serta geopolitik. Karena itu kami melihat strategi stock picking akan lebih efektif dibandingkan agresif terhadap indeks," ujarnya.
Dalam kurun waktu periode ini, deretan saham pilihan utama (top picks) dari pihak Samuel Sekuritas jatuh pada emiten BMRI, ANTM, AMMN, BUMI, serta TINS. Harry menjelaskan bahwa saham BMRI dinilai sangat menarik jika ditinjau dari aspek kualitas aset serta imbal hasil dividen (dividend yield), sementara kelompok saham ANTM, AMMN, BUMI, dan TINS mampu memberikan eksposur langsung terhadap komoditas serta perolehan pendapatan yang berbasis mata uang dolar AS, yang dirasa relatif menarik di tengah tingginya gelombang volatilitas global.
"Namun untuk komoditas, investor tetap perlu mencermati pergerakan harga serta risiko perubahan kebijakan pemerintah," pungkasnya.
Sementara itu, rangkaian acara public expose live pada pekan ini sendiri tercatat diikuti oleh sebanyak 45 emiten, di mana pergerakan harga saham masing-masing menunjukkan hasil yang bervariasi sepanjang sepekan terakhir.
Sebagai contoh, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dalam kurun waktu sepekan terpantau melemah 0,38% ke level Rp2.600, meskipun sempat bergerak menguat menyentuh level Rp2.670.
Di sisi lain, dari sektor kelompok emiten migas yang berhasil mendulang berkah tersendiri dari lonjakan harga minyak global, saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) dalam rentang sepekan justru melambung tinggi hingga 9,75% ke posisi Rp2.520. Senada dengan hal tersebut, saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) dalam sepekan juga ikut menguat 4,01% ke level Rp1.555.
Pergerakan saham dari emiten migas afiliasi figur Happy Hapsoro dalam sepekan terakhir pun turut menunjukkan tren penguatan. Tercatat saham PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) mengalami kenaikan sebesar 2% ke level Rp4.580, sedangkan saham PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) menguat 1,23% ke posisi Rp820.
Menilik secara keseluruhan grafik pergerakan indeks komposit, IHSG pada sesi penutupan perdagangan hari Jumat (11/9) ditutup melemah terkoreksi 0,73% ke level 6.541. Angka posisi tersebut secara riil mencerminkan akumulasi koreksi sebesar 1,43% jika dibandingkan dengan posisi penutupan akhir pekan sebelumnya yang berada di level 6.636.
Sepanjang rentang pekan perdagangan tanggal 7 hingga 11 September 2026, IHSG tercatat hanya mampu ditutup menguat dalam satu kali sesi perdagangan saja, yakni pada hari Selasa tanggal 8 September 2026. Seterusnya, sisa hari perdagangan lainnya membuat indeks komposit selalu konsisten berakhir di zona merah.