RI Pionir Global B50, ESDM: Belum Ada Negara Lain Capai 50%

Rabu, 02 September 2026 | 04:53:01 WIB
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi. (Foto: NET)

JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa Indonesia berperan sebagai pelopor dalam pemanfaatan biodiesel dengan campuran 50% bahan bakar nabati berbasis sawit atau B50 di kancah global.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa penerapan B50 merupakan strategi pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus memangkas ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Eniya menegaskan kembali bahwa Indonesia menjadi yang terdepan dalam pengembangan bahan bakar B50, mengingat belum ada negara lain di seluruh dunia yang mengaplikasikan campuran biodiesel hingga tingkat 50%.

"Ini rekor dunia, jadi tidak ada di dunia yang mencapai 50% [biodiesel] dari campuran ini. Malaysia itu kemarin baru mengumumkan penerapan B20 setelah sebelumnya B15," ucap Eniya saat berbicara dalam acara Indonesia EBTKE Conference and Exhibition (IndoEBTKE ConEx) 2026 di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Di samping Malaysia, Eniya memaparkan bahwa berbagai negara di kawasan Eropa baru menjalankan program biodiesel pada tingkat pencampuran 7%, sementara sejumlah negara lain berada di kisaran rata-rata 10%.

Lebih lanjut, penerapan B50 ini diproyeksikan sanggup menyetop impor solar kategori CN48. Melalui tingkat pencampuran biodiesel di angka 50%, pemenuhan kebutuhan bahan bakar tersebut diharapkan bersumber sepenuhnya dari pasokan energi dalam negeri.

Eniya menambahkan, Indonesia kini telah bertransformasi menjadi acuan bagi negara-negara lain dalam sektor pengembangan biodiesel. Pemerintah pun secara transparan memublikasikan data hasil pengujian program biodiesel agar publik dapat memantau langsung performa B50.

"Selama 6 bulan teman-teman di bioenergi menguji dan road test bersama. Kami buka datanya ke masyarakat untuk bisa tahu bagaimana performanya," tuturnya.

Di samping menggenjot program B50, pemerintah mulai merancang pengembangan jenis bahan bakar nabati alternatif berikutnya, yaitu bioetanol. Eniya menyebutkan, implementasi bioetanol dijadwalkan mulai bergulir pada tahun 2028 demi menindaklanjuti arahan dari Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

"Bioetanol itu sesuai arahan Pak Menteri bisa berjalan di 2028. Jadi kami harus siapkan," pungkasnya.

Terkini