BSD, Alam Sutera, dan PIK Jadi Hotspot Ruang Kerja Fleksibel

Rabu, 02 September 2026 | 04:37:02 WIB
Sejumlah wilayah seperti BSD, Alam Sutera, dan PIK berpotensi menjadi pusat lokasi yang menyediakan tempat kerja fleksibel. (Foto: NET)

JAKARTA — Sejumlah wilayah seperti BSD, Alam Sutera, dan PIK berpotensi menjadi pusat lokasi yang menyediakan tempat kerja fleksibel. Hal tersebut sejalan dengan peningkatan permintaan ruang kerja fleksibel sepanjang tahun 2026.

Berdasarkan data International Workplace Group atau IWG, permintaan terhadap ruang kerja fleksibel dalam kurun waktu tiga bulan terakhir naik hampir 1,5 kali lipat jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

IWG pun memproyeksikan permintaan ruang kerja fleksibel bakal terus meningkat sepanjang tahun 2026 seiring tren kerja fleksibel, hybrid working, serta faktor ketidakpastian ekonomi.

Country Manager IWG Indonesia Yoga Priyautama menyampaikan bahwa permintaan tersebut saat ini tidak hanya berasal dari kalangan usaha kecil dan menengah. 

Berbagai perusahaan besar dan multinasional mulai memanfaatkan ruang kerja fleksibel sebagai alternatif pengganti kantor konvensional yang selama ini identik dengan kebutuhan investasi awal besar serta ikatan kontrak jangka panjang.

Selama beberapa bulan terakhir, IWG mencatat korporasi dengan kebutuhan sekitar 50 hingga 100 workstation mulai beralih menggunakan ruang kerja fleksibel. 

Menurutnya, di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi saat ini, perusahaan juga belum dapat memastikan secara tepat besaran kebutuhan ruang kantor mereka untuk satu, tiga, atau lima tahun mendatang. Oleh karena itu, faktor fleksibilitas menjadi aspek yang semakin krusial.

"Ketidakpastian ekonomi menjadi salah satu pendorong, karena perusahaan dapat menyesuaikan kapasitas ruang kantor dengan kebutuhan aktual," ujarnya dalam pernyataan tertulis, Selasa (1/9/2026).

Yoga melihat bahwa dengan kondisi tersebut, pihak IWG akan mempercepat langkah ekspansi jaringan di Indonesia. Saat ini, IWG mengelola sekitar 56 pusat kerja yang melonjak signifikan dari sekitar 18 pusat sebelum pandemi Covid-19 terjadi. 

Pihaknya menargetkan penambahan enam pusat baru hingga akhir tahun 2026 sehingga total jaringan mencapai 62 pusat kerja. Memasuki tahun 2027, perusahaan membidik setidaknya 30 pusat baru dan dalam jangka waktu tiga tahun ke depan menargetkan ekspansi hingga mencapai 300 pusat kerja di Indonesia.

Langkah ekspansi tersebut tidak hanya berfokus di kawasan pusat bisnis Jakarta. IWG melihat peluang besar di daerah penyangga seperti BSD, Alam Sutera, dan PIK, seiring pergeseran pola mobilitas pekerja yang membuat lokasi kantor semakin mendekati area tempat tinggal karyawan.

Perubahan pola kerja itu turut mengubah pandangan perusahaan dalam menentukan titik lokasi kantor. Kedekatan dengan tempat tinggal pekerja kini menjadi pertimbangan baru, khususnya guna menekan durasi perjalanan sekaligus mendongkrak tingkat efisiensi.

“Dengan hybrid working, kami melihat kebutuhan untuk lebih dekat dengan tempat orang tinggal. Perusahaan mulai melihat bahwa kantor yang lebih dekat dengan karyawan dapat membantu mengurangi waktu perjalanan dan membuat pola kerja lebih efisien,” kata Yoga.

Dari segi finansial, model ini memungkinkan perusahaan untuk mengubah pos biaya properti menjadi pengeluaran yang jauh lebih fleksibel. Kapasitas kantor bisa ditambah saat perusahaan melakukan ekspansi, serta dikurangi ketika perusahaan harus menjalankan efisiensi.

Meski demikian, Yoga menilai bahwa implementasi hybrid working tetap menuntut tingkat kesiapan organisasi yang matang. 

Setiap perusahaan wajib memiliki kebijakan yang jelas, kepemimpinan yang kuat, dukungan infrastruktur memadai, serta strategi khusus guna mempertahankan kolaborasi, proses mentoring, dan budaya perusahaan.

Terkini