Harga Emas Anjlok 3,22% usai Sinyal Hawkish The Fed, Peluang Kenaikan Suku Bunga Naik ke 57%

Selasa, 01 September 2026 | 02:26:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Pernyataan Warsh dalam konferensi tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, Jumat lalu menjadi pemicu utama pelemahan emas. Dalam pidato pertamanya sejak menjabat pada Mei, ia menegaskan komitmen membawa inflasi kembali ke target 2% dan menyebutnya sebagai sasaran yang tegas. Pasar merespons cepat: peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September kini mencapai 57%, naik signifikan dari posisi sebelumnya di 33%.

Dolar Menguat, Emas Tertekan Dua Arah

Pernyataan Warsh langsung mendorong indeks dolar AS menguat, membuat emas batangan sempat turun hingga 2,9% dalam sehari. Tekanan datang dari dua sisi: emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sementara imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan bunga.

Warsh menegaskan suku bunga jangka pendek tetap menjadi instrumen utama untuk memenuhi mandat ganda The Fed. Adapun kebijakan nonkonvensional hanya akan digunakan saat krisis nyata, di luar itu penggunaannya dibatasi ketat. Ia menilai perekonomian AS masih kuat, sementara inflasi belum turun ke level yang diinginkan.

Analis: Pasar Membaca Sinyal Dua Kali Kenaikan

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menilai pernyataan Warsh ditangkap pasar sebagai indikasi kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari perkiraan sebelumnya. "Pasar menangkap sinyal bahwa bank sentral AS memiliki kemungkinan lebih besar untuk menaikkan suku bunga pada September dan Desember," ujarnya. Perubahan ekspektasi ini cukup signifikan dibanding posisi pasar sebelum pidato Warsh.

Harga emas yang sempat mendekati USD4.700 per troy ons pada awal pekan lalu akhirnya merosot menuju level USD4.450 setelah pidato Jackson Hole. Sepanjang perdagangan Jumat, koreksi harian mencapai 3,22% — salah satu pelemahan terdalam dalam sebulan terakhir.

Permintaan China Tetap Menopang Tren Agustus

Meski sedang tertekan, tren penguatan emas sepanjang Agustus belum sepenuhnya berbalik. Penopang utama datang dari permintaan fisik China yang dilaporkan membeli lebih dari 40 ton emas melalui pasar over-the-counter (OTC) London pada Juni 2026. Volume tersebut menjadi pembelian bulanan terbesar kedua sejak awal 2025.

Yang menarik, angka ini lebih besar dibanding pembelian yang dilaporkan secara resmi oleh People's Bank of China (PBoC). Hal ini mengindikasikan akumulasi emas oleh China kemungkinan jauh lebih besar dari yang terlihat dalam data cadangan devisa resmi.

Harga Emas di Indonesia: Antam dan Emas Digital

Di pasar domestik, harga emas batangan Antam dibuka tanpa perubahan pada Senin (31/8) di level Rp2.670.000 per gram. Angka ini lebih rendah Rp48.000 dibanding posisi Jumat pekan lalu di Rp2.718.000 per gram. Harga buyback Antam juga terkoreksi Rp55.000 ke Rp2.523.000 per gram.

  • Harga beli emas Antam: Rp2.670.000 per gram (turun Rp48.000 dari Jumat)
  • Harga buyback emas Antam: Rp2.523.000 per gram (turun Rp55.000 dari Jumat)
  • Harga beli emas digital Treasury: Rp2.584.709 per gram per Senin pukul 10.00 WIB, turun Rp14.166 dari penutupan pekan lalu

Pergerakan harga emas domestik tidak hanya mengikuti pasar global, tetapi juga dipengaruhi kebijakan The Fed yang berdampak pada nilai tukar dolar dan daya beli rupiah. Investor perlu mencermati bahwa volatilitas masih akan tinggi menjelang pengumuman kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan September.

Investasi mengandung risiko.

Terkini