BISNISINSIGHT.COM — Keputusan ekspor primata untuk kebutuhan riset biomedis ini diambil setelah pengajuan resmi terakhir tercatat pada 2022. Otoritas terkait menilai perdagangan ini sah secara regulasi karena mengacu pada alokasi kuota Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).
Nilai Ekonomi dan Permintaan Pasar Global
Potensi pasar untuk komoditas ini tergolong besar. Amerika Serikat membutuhkan hingga 10.000 ekor per tahun, sementara China mencapai 20.000 ekor per tahun untuk penelitian biomedis.
Dengan harga per ekor mencapai US$3.000 hingga US$4.000 atau setara Rp53 juta hingga Rp71 juta, pengiriman tahap awal sebanyak 1.928 ekor berpotensi menghasilkan devisa lebih dari Rp100 miliar.
Pada periode 2022 hingga 2023, Indonesia telah mengirimkan ribuan ekor monyet ke pasar internasional. Tingginya permintaan dari dua negara adidaya tersebut membuat perdagangan satwa ini terus berjalan rutin.
Kritik dari Akademisi dan Risiko Konservasi
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menilai kebijakan ini bermasalah dari sisi etika dan kelestarian. Ia menegaskan monyet ekor panjang merupakan makhluk sosial cerdas yang seharusnya hidup bebas di alam liar.
"Dari sisi ilmiah dan proses evolusi, monyet ekor panjang merupakan makhluk sosial yang cerdas dan berhak hidup bebas di alam liar," ujarnya. "Dan tentunya mengundang banyak kritik, karena dianggap gagal melindungi satwa liar yang terancam punah."
Kekhawatiran lain muncul dari potensi penyalahgunaan di lapangan. Skema pembelian dari masyarakat lokal dinilai rawan dimanfaatkan untuk menyamarkan satwa hasil tangkapan liar agar tampak seperti berasal dari penangkaran legal.
Status Konservasi dan Tekanan Internasional
International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menaikkan status monyet ekor panjang menjadi Endangered atau terancam punah. Lembaga konservasi dunia itu memproyeksikan penurunan populasi hingga 40 persen dalam tiga generasi mendatang.
Penyusutan habitat asli dan maraknya perburuan liar menjadi faktor utama penurunan populasi. Di sisi lain, sejumlah negara maju mulai meninggalkan praktik pengujian pada hewan dan beralih ke teknologi riset alternatif seperti metode in vitro, organ-on-chip, dan kecerdasan buatan.
Desakan untuk menghentikan ketergantungan devisa dari pengiriman satwa liar pun mengemuka, seiring tuntutan agar Indonesia menunjukkan komitmen nyata terhadap etika riset dan pelestarian keanekaragaman hayati global.