Kemenhut Menyisir Area Karhutla Bromo untuk Pastikan Bara Apinya Mati

Senin, 17 Agustus 2026 | 05:12:02 WIB
Dwi Januanto Nugroho selaku Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan. (Foto: NET)

JAKARTAKementerian Kehutanan secara berkelanjutan menjalankan proses pendinginan sekaligus penyisiran lokasi bekas hangus (mopping up) di zona kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Gunung Bromo, wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, guna menjamin tak ada sisa bara yang dapat menyebabkan kobaran api baru.

"Pendinginan difokuskan pada titik-titik yang masih berpotensi menyimpan panas agar bara benar-benar padam dan tidak kembali merambat ke bagian kawasan yang belum terdampak," ucap Dwi Januanto Nugroho selaku Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan lewat pernyataan tertulisnya yang didapatkan di Probolinggo pada hari Senin (17/8/2026).

Menyusul operasi yang berlangsung sekitar dua minggu, Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra) Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Ditjen Gakkum Kehutanan) berdampingan dengan Balai Besar TNBTS, aparat TNI, Polri, BPBD, tenaga sukarela, beserta warga setempat masih melangsungkan pengawasan dan penyiraman di wilayah yang telah hangus.

"Kewaspadaan tetap dijaga karena kebakaran sebelumnya melanda vegetasi savana, cemara gunung, pakis, semak belukar, serta lapisan serasah yang cukup tebal," ungkapnya.

Dwi menyampaikan bahwa situasi ini membuat sisa bara berpeluang terus hidup walau nyala api sudah tak nampak. Kelompok petugas pun berjaga-jaga terhadap putaran angin setempat (dust devil) yang mampu menerbangkan objek ringan dan berisiko memindahkan sisa panas ke zona berbeda, di samping itu, upaya menanggulangi musibah di Bromo ini menghadirkan wawasan berharga demi meningkatkan mitigasi karhutla menjelang periode kemarau.

"Bromo memberi satu pelajaran penting, api mungkin sudah terkendali tetapi ancaman karhutla belum selesai. Pencegahan harus diperkuat dari tingkat tapak, dan pengelola kawasan perlu terus memperkuat keterlibatan masyarakat, bukan hanya dalam pencegahan kebakaran tetapi juga dalam pengelolaan taman nasional," tuturnya.

Berdasarkan pandangannya, warga merupakan kelompok yang paling berdekatan dengan area tersebut, kerap kali menjadi pihak awal yang menyadari kemunculan masalah, dan sekaligus yang paling dirugikan apabila musibah kebakaran melanda, oleh sebab itu, upaya menjaga kelestarian rimba wajib dieksekusi bersama-sama dengan masyarakat.

"Pemerintah tahun ini memang tengah memperkuat pengendalian karhutla menghadapi musim kemarau, termasuk kesiapan Manggala Agni, deteksi dini, patroli, dan koordinasi lintas sektor," terangnya.

Suharyono, selaku Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan yang mengawasi secara langsung aktivitas ini lewat apel siaga penanganan kebakaran hutan, memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi segenap anggota yang sudah bertugas selama kurang lebih dua minggu di tengah misi tersebut.

"Personel bekerja menghadapi medan dan kondisi kebakaran yang tidak mudah. Terkendalinya api bukan akhir dari pekerjaan. Fokus sekarang memastikan seluruh area bekas terbakar benar-benar aman dan tidak ada bara yang kembali menyala," kata Suharyono.

Kementerian Kehutanan memosisikan upaya mitigasi karhutla sebagai aspek krusial dalam regulasi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni demi mengamankan kelestarian hutan sekaligus perlindungan masyarakat. 

Catatan penanggulangan insiden di Bromo ini diadaptasi sebagai instrumen evaluasi sekaligus sarana penguatan langkah preventif menyambut masa kemarau.

Tindakan yang diimplementasikan menjadikan pantauan awal, reaksi kilat, serta daya sinergi pada skala dasar sebagai fondasi utama supaya nyala api tidak membesar dan memicu kerugian ekosistem yang makin masif. 

Peningkatan kesiagaan pasukan maupun sarana prasarana Manggala Agni pun tak luput dari fokus Menteri Kehutanan guna merespons potensi karhutla di tahun 2026.

Terkini