APLN Bidik Marketing Sales Rp1,5 Triliun di Tahun 2026

Selasa, 28 Juli 2026 | 02:39:01 WIB
PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN). (Foto: NET)

JAKARTA — PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) tetap menjaga target pra penjualan atau marketing sales pada rentang Rp1,4 triliun sampai Rp1,5 triliun di sepanjang tahun 2026, kendati dihadapkan pada tantangan lonjakan suku bunga acuan atau BI Rate. 

Manajemen perseroan melihat bahwa permohonan pasar untuk properti hunian, khususnya dari segmen konsumen yang membeli demi kebutuhan tempat tinggal sendiri (end-user), masih memperlihatkan daya tahan yang kuat.

Corporate Secretary APLN, Justini Omas, menyampaikan bahwa laporan kinerja operasional perseroan sampai dengan paruh pertama tahun 2026 saat ini masih berada dalam tahapan penyelesaian akhir. 

Kendati demikian, apabila merujuk pada capaian triwulan I/2026, APLN telah mencatatkan angka penjualan serta pendapatan usaha sebesar Rp2,9 triliun, atau tumbuh pesat hingga 232% jika dikomparasikan dengan perolehan di masa yang sama pada tahun sebelumnya yang bernilai Rp874,5 miliar.

"Perseroan masih mempertahankan target marketing sales tahun 2026 di kisaran Rp1,4–1,5 triliun. Target tersebut disusun secara realistis dengan mempertimbangkan kondisi pasar sekaligus sejalan dengan pencapaian marketing sales tahun 2025 yang mencapai sekitar Rp1,4 triliun," ujarnya, Selasa (28/7/2026).

Menilik dari karakteristik profil pelanggan, manajemen APLN menjabarkan bahwa porsi terbesar dari pembeli unit residensial masih didominasi oleh kelompok end-user, sedangkan persentase sisanya diisi oleh kalangan investor yang memproyeksikan properti sebagai instrumen untuk berinvestasi. 

Justini Omas juga mengamati bahwa serapan pasar paling masif masih disumbang oleh sektor perumahan kelas menengah, khususnya untuk varian produk milenial home yang dibanderol pada kisaran harga mendekati Rp1 miliar.

Berdasarkan penjelasan Justini Omas, sejumlah portofolio seperti Podomoro Park Bandung, Parkland Podomoro Karawang, beserta Podomoro Golf View tetap menjadi opsi utama para konsumen lantaran menyajikan perpaduan harga yang bersaing, aksesibilitas yang strategis, serta sarana kawasan yang komprehensif. 

Di samping itu, sistem pembelian lewat skema pembiayaan bank perbankan kian menunjukkan tren kenaikan. Hingga akhir semester I/2026, kurang lebih 50% dari total penjualan perusahaan ditopang oleh fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA).

"Angka ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang mencerminkan permintaan end-user yang tetap sehat, didukung tren suku bunga yang lebih kondusif dan cicilan yang semakin terjangkau," imbuhnya.

Walau begitu, pihak APLN tidak menampik bahwa pergerakan naik BI Rate tetap menjadi indikator risiko yang wajib diwaspadai karena berpeluang menaikkan beban pembiayaan sekaligus memberikan tekanan terhadap tingkat daya beli publik. 

Namun, manajemen menilai eskalasi dampak negatifnya terhadap total penjualan sejauh ini terpantau masih relatif terbatas. Minat masyarakat pada sektor hunian dinilai tetap kokoh lantaran disokong oleh kebutuhan yang bersifat riil untuk memiliki rumah tinggal.

Guna mengamankan tren penjualan yang positif ini hingga penutupan tahun nanti, APLN senantiasa memaksimalkan beraneka langkah strategis, mulai dari menggulirkan program reward promosi, menyuguhkan opsi mekanisme pembayaran yang bersifat fleksibel, hingga mengintensifkan kemitraan strategis dengan institusi perbankan demi menghadirkan alternatif opsi pembiayaan yang menarik bagi para peminat. Untuk langkah ke depan, Justini Omas memaparkan bahwa korporasi akan terus mengamati fluktuasi situasi pasar dan mengkalibrasi strategi usaha secara cermat supaya target performa penjualan yang telah dicanangkan dapat terealisasi sepenuhnya.

Terkini