Kemarau Ancam Tani, BPBD Lampung Siapkan Hujan Buatan

Selasa, 28 Juli 2026 | 05:58:31 WIB
Ancaman musim kemarau yang diprediksi mencapai puncaknya pada September 2026 tidak cuma berimbas pada ketersediaan air bersih. (Foto: NET)

JAKARTA - Ancaman musim kemarau yang diprediksi mencapai puncaknya pada September 2026 tidak cuma berimbas pada ketersediaan air bersih, namun juga mulai mengancam sektor pertanian di Provinsi Lampung. 

Guna mengantisipasi risiko itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menyiapkan pilihan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan jika kondisi kekeringan semakin memburuk.

Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Muhammad Fareza Revanza, menyebutkan, strategi itu menjadi salah satu alternatif yang disiapkan pemerintah lantaran kemarau panjang berpotensi memicu krisis air sampai mengganggu produksi pertanian. 

Menurut dia, Lampung merupakan salah satu wilayah penyangga pangan nasional dengan komoditas unggulan berupa padi, kopi, jagung, dan bermacam hasil perkebunan lainnya. 

Ketergantungan pada ketersediaan air menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu yang paling rentan terdampak jika musim kemarau berjalan lebih lama dari biasanya.

"Yang paling kami khawatirkan bukan hanya kekeringan, tetapi dampak lanjutannya terhadap sektor pertanian. Kalau pasokan air terus berkurang, risikonya bisa sampai gagal panen dan itu akan berdampak pada perekonomian daerah," kata Fareza, Senin (27/7/2026).

Di samping ancaman terhadap hasil pertanian, BPBD juga mulai mengantisipasi potensi melonjaknya kebutuhan air di tengah musim kemarau. Semakin panjang masa tanpa hujan, kebutuhan air untuk rumah tangga maupun lahan pertanian diprediksi akan meningkat. 

Keadaan itu dikhawatirkan memicu perebutan sumber air, terutama di kawasan yang selama ini bergantung pada sumur maupun sumber air permukaan. Oleh karena itu, pemerintah memilih memperkuat langkah mitigasi sejak dini supaya dampak sosial maupun ekonomi dapat ditekan.

"Kalau kemarau berlangsung lama, bukan hanya masyarakat yang kesulitan mendapatkan air, tetapi sektor pertanian juga akan terdampak. Ini yang sedang kami antisipasi," ujarnya.

Fareza memaparkan, salah satu langkah yang sedang disiapkan yaitu Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan. 

Berbeda dengan OMC yang dijalankan pada awal tahun untuk menekan curah hujan saat ancaman banjir meningkat, operasi kali ini diarahkan untuk memicu hujan di wilayah yang membutuhkan pasokan air tambahan. 

Menurut dia, keputusan pelaksanaan OMC akan mempertimbangkan perkembangan cuaca dalam beberapa pekan ke depan serta hasil pemantauan BMKG mengenai tren musim kemarau.

"Teknologinya sama, tetapi pendekatannya berbeda. Awal tahun kami mengurangi curah hujan karena ancaman banjir, sedangkan sekarang justru menambah curah hujan untuk mengurangi dampak kekeringan," katanya.

Sembari menunggu perkembangan kondisi cuaca, BPBD Provinsi Lampung memperkuat bermacam upaya mitigasi bersama BPBD kabupaten dan kota. 

Langkah itu mencakup edukasi penghematan air kepada masyarakat lewat program Desa Tangguh Bencana (Destana), sosialisasi kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, hingga pemantauan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

Selain itu, sebagian sumber daya BPBD di daerah mulai dialihkan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau, sejalan dengan menurunnya ancaman banjir. 

Fareza berharap langkah mitigasi yang dijalankan sejak awal mampu menekan dampak kemarau terhadap masyarakat maupun sektor pertanian.

"Kami berharap masyarakat juga mulai menghemat penggunaan air. Upaya mitigasi tidak cukup hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat agar dampak kemarau bisa diminimalkan," ujarnya.

Terkini