JAKARTA — PT Pegadaian (Persero) berhasil mengumpulkan laba bersih periode berjalan hingga Rp6,59 triliun selama semester I/2026. Perolehan tersebut melesat 84,5% (year on year/YoY) dari capaian periode sebelumnya yang sebesar Rp3,57 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan Pegadaian beserta entitas anaknya yang dipublikasikan di Harian Bisnis Indonesia pada Senin (27/7/2026), total pendapatan usaha Perseroan berada di angka Rp67,26 triliun, atau tumbuh 79,2% YoY.
Nilai tersebut bersumber dari pendapatan sewa modal dan administrasi sebesar Rp18,40 triliun, pendapatan dari penjualan emas Rp48,23 triliun, serta pendapatan usaha lainnya senilai Rp632,75 milar.
Di sisi lain, total beban usaha Pegadaian sepanjang semester I/2026 membengkak jadi Rp58,43 triliun, atau terkerek naik 78,1% YoY.
Pengeluaran terbesar bersumber dari beban harga pokok penjualan emas senilai Rp46,13 triliun, beban karyawan Rp4 triliun, serta beban bunga dan bagi hasil sebesar Rp3,58 triliun.
Melalui rincian tersebut, laba usaha Perseroan membukukan angka Rp8,83 triliun, meningkat 87% YoY.
Adapun laba sebelum pajak penghasilan berada di angka Rp8,87 triliun dengan beban pajak penghasilan sebesar Rp2,27 triliun, yang kemudian menghasilkan laba bersih periode berjalan senilai Rp6,59 triliun.
Menilik laporan posisi keuangan konsolidasian, total aset Pegadaian pada semester I/2026 melesat 22,8% YoY menjadi Rp186,33 triliun.
Kontribusi aset terbesar disumbang oleh pinjaman yang diberikan - bersih senilai Rp149,30 triliun, aset tetap - bersih Rp13,04 triliun, serta pendapatan yang masih harus diterima sebesar Rp6,53 triliun.
Untuk pos liabilitas, jumlah keseluruhannya mencapai Rp142,32 triliun. Secara mendetail, utang terbesar berasal dari pinjaman bank pihak berelasi senilai Rp50,79 triliun dan pihak ketiga sebesar Rp60,62 triliun.
Selanjutnya, Rp12,91 triliun bersumber dari surat berharga yang diterbitkan. Di pihak lain, total ekuitas Perseroan berada di angka Rp44,01 triliun. Melalui perolehan tersebut, jumlah liabilitas dan ekuitas Pegadaian per Juni 2026 menyentuh Rp186,33 triliun.