Pasar Tertekan, Reasuransi Perkuat Strategi Investasi Aman

Rabu, 22 Juli 2026 | 02:08:01 WIB
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan. (Foto: NET)

JAKARTA - Pelaku industri reasuransi memilih memperkuat strategi penempatan investasi yang lebih konservatif di tengah tekanan pasar keuangan sepanjang semester pertama 2026.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengatakan portofolio perusahaan reasuransi umumnya ditempatkan pada instrumen yang relatif aman, likuid, dan sesuai dengan karakteristik kewajiban perusahaan. 

Dengan kondisi pasar yang masih tertekan, ia menyebut kalau perusahaan reasuransi perlu memperhatikan sejumlah hal dalam menempatkan investasi.

"Perusahaan reasuransi perlu tetap menerapkan strategi investasi yang konservatif dan mengedepankan prinsip kehati-hatian" jelasnya, Rabu (22/7/2026).

Salah satunya adalah strategi menempatkan dana pada instrumen berpendapatan tetap dengan kualitas kredit yang baik serta melakukan diversifikasi portofolio untuk menjaga risiko tidak terkonsentrasi pada satu jenis aset saja. 

Selain itu, perusahaan juga perlu menerapkan asset-liability matching serta menjaga likuiditas agar tetap mampu memenuhi pembayaran klaim. Evaluasi portofolio secara berkala juga diperlukan agar perusahaan dapat merespons perubahan pasar tanpa mengambil risiko yang berlebihan.

Strategi konservatif yang serupa juga diterapkan PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugu Re).

"Kami tetap menjalankan strategi konservatif berbasis asset liability management (ALM)," ujar Direktur Keuangan Tugu Re Dradjat Irwansyah.

Katanya untuk fixed income, perusahaan masih akan mempertahankan posisi overweight pada Surat Utang Negara (SUN) dan deposito sebagai penyangga utama portofolio investasi. 

Sementara itu, mereka akan lebih selektif saat masuk ke obligasi korporasi melalui analisis kredit yang ketat, sedangkan penempatan dana pada saham dan reksa dana saham dilakukan secara bertahap sesuai momentum pasar dengan mempertimbangkan risk-adjusted return.

Sebagai informasi, secara historis Otoritas Jasa Keuangan mencatatkan penurunan hasil investasi kuartal I sejak tahun 2024 dari yang semula Rp340 miar menjadi, Rp259 miliar pada periode 2025 dan terkoreksi 50% pada periode 2026 menjadi Rp130 miliar.

Terkini