JAKARTA - Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) selaku Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) menyatakan bahwa rancangan induk (master plan) proyek Tanggul Laut Raksasa alias Giant Sea Wall (GSW) masih terus dipersiapkan secara matang.
AHY menyebutkan Kemenko IPK senantiasa menjalin koordinasi serta menyumbangkan berbagai masukan maupun arahan untuk diimplementasikan.
"Yang jelas saat ini kami terus mematangkan master plan-nya, Giant Sea Wall sepanjang 575 kilometer ini adalah proyek yang luar biasa besar. Tapi saya juga mengingatkan bahwa kami mulai dari yang paling rentan, yaitu Teluk Jakarta. Ini kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta, dengan Pak Gubernur Pramono Anung misalnya," ucap AHY saat konferensi pers di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Selanjutnya, ia menambahkan, kawasan Jawa Tengah yang menjadi area paling rawan terdampak penurunan permukaan tanah (land subsidence) serta banjir rob tentunya mencakup wilayah Semarang, Kendal, hingga Demak.
"Baru sisanya kami membagi dalam segmen-segmen. Segmen pertama sampai dengan sekian belas segmen dari barat ke timur. Ini masih terus dimatangkan, walaupun ada rencana yang dinamakan groundbreaking program, baru setelah itu berikutnya groundbreaking fisik. Ini juga kami akan terus mengawalnya terlebih dahulu," tuturnya.
AHY juga menjelaskan bahwa pembangunan tanggul pantai dan laut, serta normalisasi sungai, adalah pekerjaan besar yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Upaya pencegahan banjir rob dan penurunan muka tanah tidak sekadar berfokus pada pembuatan tanggul, tetapi juga harus mencakup langkah pencegahan seperti menekan tingkat eksploitasi air tanah.
"Kemudian mencegah banjir kiriman berarti di hulu juga harus ditata. Saya ulangi, tata ruangnya tidak boleh diabaikan, baru kami bicara hilir," tegasnya.
Menurut AHY, persoalan di wilayah hilir memang dipicu oleh dampak pemanasan global dan kenaikan permukaan air laut, sehingga sejumlah sektor wajib dilindungi dengan tanggul.
Pengerjaan selebihnya akan memanfaatkan pendekatan solusi berbasis alam (nature-based solution), di mana penanaman mangrove dinilai sebagai metode terbaik dan dapat dieksekusi dengan lebih cepat.