Bahlil Tegaskan BBM Subsidi Tetap Meski Minyak Tembus US$100

Bahlil Tegaskan BBM Subsidi Tetap Meski Minyak Tembus US$100
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia [FOTO: NET].

JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan meski harga minyak mentah global melonjak tinggi. 

Lonjakan harga minyak dunia kini telah menembus angka di atas US$100 per barel, dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan data CNBC International, harga minyak mentah Brent melonjak 6,3% menuju level US$107,63 per barel pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026). Di saat yang sama, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 6,7% hingga menyentuh posisi US$102,48 per barel.

Bahlil mengungkapkan pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan Presiden Prabowo Subianto serta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam menyikapi dinamika pasar minyak dunia. 

Walaupun lonjakan harga terus terjadi, ia menjamin harga BBM subsidi di dalam negeri tetap dipertahankan.

"Khususnya menyangkut dengan harga minyak dunia yang tidak menentu, tetapi pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan," tutur Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (11/9/2026).

Sebagai informasi, lonjakan harga minyak mentah dunia ini telah melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Padahal, realisasi ICP pada Agustus 2026 tercatat sudah menembus US$89,43 per barel.

Bahlil tidak menampik bahwa kondisi tersebut memberi tekanan berat bagi posisi fiskal negara lantaran pelebaran selisih harga minyak global dari patokan ICP akan otomatis membengkakkan alokasi subsidi.

"Kenapa? Karena pasti penambahan subsidinya nambah, tetapi Bapak Presiden Prabowo berpandangan bahwa membela dan menjaga daya beli masyarakat untuk menengah ke bawah itu jauh lebih penting, sekalipun dengan berbagai macam hal-hal yang harus kami lakukan," jelas Bahlil.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Bahlil menyampaikan pemerintah harus menambah suntikan anggaran subsidi untuk tahun berjalan, kendati besaran pasti beban tambahan tersebut masih dihitung.

"Menambah anggaran subsidi saya pikir itu bagian daripada langkah yang kami lakukan," katanya.

Data Kementerian ESDM memperlihatkan ICP Agustus 2026 berada di level US$89,43 per barel, atau naik US$7,75 jika dibandingkan posisi Juli 2026 yang sebesar US$81,68 per barel.

 Lonjakan ini dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik serta kekhawatiran tersendatnya arus pasokan di rute maritim internasional. Ketetapan angka ICP tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 352.K/MG.03/MEM.M/2026.

Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menerangkan, pendorong utama kenaikan ICP Agustus adalah tingginya potensi gangguan pasokan di titik-titik krusial akibat memanasnya suhu geopolitik.

"Berbagai ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, telah memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak dunia," ujar Laode melalui keterangan resmi.

Selain dinamika di jalur maritim, pengetatan sanksi politik-ekonomi serta kebuntuan dalam diplomasi global turut menahan pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional sepanjang Agustus 2026.

Memasuki September 2026, tren harga ICP diproyeksikan tetap membumbung tinggi pada kisaran US$83,00 hingga US$87,00 per barel, menyusul potensi hambatan logistik di Selat Hormuz serta menyusutnya cadangan minyak AS.

Laode menegaskan pihaknya bakal mengawasi ketat fluktuasi harga minyak mentah guna memelihara ketahanan energi nasional. Ia juga memastikan kalkulasi ICP dirancang transparan dan mencerminkan dinamika global agar senantiasa akuntabel bagi keuangan negara maupun sektor hulu migas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index