JAKARTA — Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menggerakkan berbagai desa di nusantara agar memanfaatkan sarana digital, khususnya video, guna memperkenalkan ragam potensi ekonomi yang mereka miliki.
Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa Kemendes PDT, Tabrani, desa-desa di Indonesia mempunyai kekayaan serta keunggulan yang bervariasi, tetapi daya tarik tersebut wajib diperkenalkan secara lebih masif supaya dikenal oleh masyarakat luas, calon pembeli, pelancong, dan calon mitra kerja.
“Potensi itu ada, produk itu ada, inovasi itu ada, cerita keberhasilan itu juga ada. Persoalannya adalah apakah masyarakat di luar desa tersebut mengetahui, apakah calon konsumen mengetahui bahwa di desa itu punya produk keunggulan yang dihasilkan,” ucap Tabrani tatkala membuka Sosialisasi Lomba Video Dokumentasi Desa dan Daerah Tertinggal Tahun 2026, seperti disimak secara virtual di Jakarta, Selasa.
Ia lantas memberikan contoh bahwa publikasi potensi desa bisa mencakup bidang pertanian, kerajinan tangan, sektor pariwisata, kebudayaan lokal, hingga unit usaha yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Lebih lanjut, Tabrani mengungkapkan bahwa kegiatan promosi memegang peranan vital seiring bergesernya pola masyarakat dalam mengakses informasi. Pada masa kini, tuturnya meneruskan, mayoritas warga mencari serta mendapatkan berbagai informasi melalui gawai digital.
Berdasarkan pandangannya, masyarakat saat ini mampu mengenali suatu produk lewat telepon pintar, menentukan destinasi berlibur seusai menyaksikan tayangan video di jejaring sosial, hingga berminat membeli barang setelah mencermati tata cara pembuatan beserta narasi di balik produk tersebut.
“Oleh karena itu, kemampuan untuk menceritakan potensi desa melalui media digital menjadi semakin penting dalam pengembangan ekonomi desa,” tuturnya.
Ia selanjutnya berpandangan bahwa ajang lomba video dokumentasi desa dan daerah tertinggal yang diselenggarakan oleh Kemendes PDT tidak sepatutnya dilihat sekadar sebagai ajang perlombaan pembuatan video, melainkan mampu bertransformasi sebagai elemen dalam membentuk ekosistem pemasaran digital pedesaan.
“Video bukan hanya alat untuk merekam. Video adalah alat untuk bercerita, membangun kepercayaan, memperkenalkan identitas desa, serta membuka akses pasar dan peluang ekonomi baru bagi kami,” ungkapnya.
Ia pun mengimbau kepada seluruh kontestan lomba agar tidak hanya menghasilkan karya visual yang estetis dari segi pemandangan, melainkan juga sanggup mengomunikasikan narasi serta pesan penting mengenai keunggulan desa.
Untuk karya video yang menyoroti produk andalan desa, contohnya, para peserta diarahkan agar tidak cuma menampakkan fisiknya saja, melainkan turut mengisahkan sosok pembuatnya, tahapan produksinya, kelebihan barang tersebut, partisipasi warga, serta dampak kesejahteraan ekonomi yang dirasakan oleh komunitas desa.
Sementara itu, untuk sektor daya tarik wisata, ia mengarahkan para peserta supaya menonjolkan pengalaman autentik yang bakal didapatkan oleh para pelancong saat singgah, yang mencakup unsur tradisi, keramahan warga setempat, beserta ketersediaan produk khas daerah.
Melalui penerapan strategi semacam ini, Tabrani menaruh harapan agar dokumentasi video tidak berhenti sekadar menjadi arsip rekaman visual, melainkan sanggup berfungsi sebagai sarana efektif untuk memperkenalkan ciri khas serta potensi desa kepada khalayak yang jauh lebih luas.