Mengenal Vibe Checker, Sosok Paling Peka dalam Lingkungan Teman

Mengenal Vibe Checker, Sosok Paling Peka dalam Lingkungan Teman
Ilustrasi pertemanan [FOTO: NET].

JAKARTA - Di dalam lingkaran pertemanan, lazimnya terdapat individu yang paling sigap mendeteksi tatkala atmosfer sekitar bergeser, kawan mendadak membisu, atau intonasi suara seseorang berlainan dari biasanya. Pribadi yang memiliki kepekaan tinggi terhadap dinamika suasana ini kerap dijuluki sebagai vibe checker.

Merujuk pada Real Simple, istilah vibe checker mengarah pada seseorang yang amat peka terhadap fluktuasi suasana hati serta ketegangan di tengah kelompok. Mereka umumnya berupaya memastikan tiada rekan yang merasa terasing, menyediakan ruang manakala seseorang berkeinginan mencurahkan isi hati, hingga ikut meredam potensi gesekan sebelum eskalasi konflik membesar.

Terapis Alexandra Foglia, DMFT, bersama psikolog klinis berlisensi Mirjam Quinn, PhD, menerangkan bahwa peran semacam itu memang sanggup membantu merawat keharmonisan ikatan pertemanan. Kendati demikian, apabila beban untuk menjaga kondisi emosional tersebut dipikul oleh satu orang saja, situasi itu justru berpotensi menguras tenaga mental.

Foglia menguraikan bahwa figur vibe checker biasanya begitu cekatan menangkap pergeseran sekecil apa pun dalam interaksi sosial. Ketajaman indra sosial tersebut memungkinkan mereka mengendus persoalan yang bahkan belum diungkapkan secara terang-terangan oleh anggota kelompok lainnya.

“Setiap lingkaran sosial setidaknya memiliki satu anggota yang akan segera menyadari perubahan kecil dalam nada bicara, bahasa tubuh, atau ketegangan yang tidak terucapkan pada seseorang,” jelasnya.

Terbiasa Membaca Situasi Sejak Kecil

Menurut Mirjam Quinn, kebiasaan bertindak sebagai orang paling peka dalam kelompok sering kali tidak muncul secara kebetulan. Sebagian orang telah terbiasa mencermati gejolak emosi orang lain sejak berada di lingkungan keluarga.

Quinn memaparkan bahwa seseorang dapat tumbuh membawa kebiasaan tersebut lantaran semasa kecil dituntut mawas terhadap peralihan suasana di rumah. Dalam skenario tertentu, anak bisa secara tidak sadar mengemban peran untuk mendeteksi siapa anggota keluarga yang sedang dilanda amarah, stres, maupun menghadapi kemelut hidup.

“Sering kali anak-anak tersebut sedikit lebih sensitif dibandingkan saudara mereka dan kemudian, tanpa sengaja, diberi peran dalam keluarga untuk memperhatikan siapa yang sedang dalam suasana hati buruk, siapa yang stres karena pekerjaan, dan di ruangan mana suasana akan berubah menjadi tegang,” terangnya.

Polanya kemudian terbawa hingga usia dewasa dan termanifestasi kembali tatkala berinteraksi dalam kelompok pertemanan. Seseorang mungkin merasa terdorong memantau kondisi psikologis orang-orang terdekatnya sekaligus memikirkan cara memulihkan kenyamanan.

Quinn mengutarakan bahwa fungsi tersebut bahkan kerap dianggap sebagai bagian inheren dari karakter diri.

“Kami hanya menganggap diri kami sebagai orang yang secara ‘alami’ melakukan perilaku seperti ini, kemudian kami cenderung mengulanginya dalam kelompok pertemanan,” kata Quinn.

Bisa Membuat Lelah dan Kesal

Menjadi sosok yang peka sejatinya bukanlah perangai yang tercela. Kendati demikian, masalah mulai timbul tatkala seseorang merasa memikul kewajiban absolut untuk mengontrol suasana hati seluruh kelompok secara terus-menerus.

Foglia mengibaratkan kondisi tersebut serupa petugas yang mengarahkan lalu lintas emosi di dalam kelompok.

“Sisi buruk dari kemampuan ini adalah, seiring waktu, vibe checker biasanya mulai bertindak sebagai pengatur lalu lintas emosional dalam kelompok,” tutur Foglia.

Ia menambahkan, individu yang bersangkutan bakal memonitor segala dinamika di sekelilingnya sehingga kehilangan kesempatan untuk bersantai serta menikmati momen kebersamaan secara utuh.

Jika berlangsung tanpa jeda, kebiasaan itu sanggup memicu kepenatan mental serta kejengkelan akibat tuntutan menjaga situasi tetap stabil. Quinn menilai pola relasi ini berubah menjadi tidak sehat manakala satu orang memonopoli kepemilikan dan tanggung jawab atas kesejahteraan emosional kawan-kawannya.

Oleh karena itu, Quinn menganjurkan para vibe checker untuk belajar mengambil jarak serta menahan diri agar tidak selalu berinisiatif membereskan problem orang lain.

“Saya biasanya mendorong mereka untuk melihat bagaimana rasanya membiarkan dua anggota kelompok mengalami konflik, atau satu anggota kelompok memiliki perasaan yang sulit, tanpa langsung turun tangan untuk menyelamatkan mereka,” katanya.

Bagi Quinn, membiarkan orang lain berhadapan langsung dengan emosi mereka sendiri dapat bertransformasi menjadi pengalaman yang mencerahkan. Bisa jadi, rekan kelompok yang lain justru memiliki kapasitas untuk mengambil alih peran tersebut dan mencari solusi tatkala tidak selalu didahului oleh aksi sang vibe checker.

Foglia menggarisbawahi bahwa pertemanan yang sehat menuntut adanya aksi saling memantau kondisi antar-individu sekaligus menyediakan ruang bagi setiap personal untuk mengutarakan perasaannya secara transparan.

"Kelompok yang sehat tidak menganggap kepekaan dan kesadaran sebagai tugas satu anggota saja," imbuhnya.

Dengan mendistribusikan beban emosional secara lebih berimbang, tiap-tiap anggota kelompok pertemanan dapat merasakan perhatian yang adil tanpa membebani satu orang saja untuk terus-menerus bertindak sebagai pengawal suasana.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index