Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.690 per Dolar AS di Awal Pekan, JISDOR Ikut Naik

Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.690 per Dolar AS di Awal Pekan, JISDOR Ikut Naik
Rupiah menguat tipis ke Rp17.690 per dolar AS pada awal pekan, seiring kenaikan kurs tengah BI (JISDOR) ke Rp17.705.

BISNISINSIGHT.COM — Pergerakan tipis di pasar spot ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda mulai mereda setelah sempat bertahan datar di level Rp17.748 per dolar AS pada sesi Jumat pagi. Data kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) turut mengkonfirmasi tren perbaikan tersebut.

Kurs Tengah BI Ikut Menguat, Sinyal Stabilitas Terjaga

Bank Indonesia menetapkan kurs JISDOR di level Rp17.705 per dolar AS pada Jumat (pekan lalu), naik dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.779 per dolar AS. Penguatan kurs tengah ini menjadi sinyal bahwa otoritas moneter menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak pasar global.

Selisih antara kurs pasar spot dan kurs tengah BI yang tipis mengindikasikan tekanan permintaan dolar AS di dalam negeri relatif terkendali. Para pelaku pasar tampak menunggu katalis baru dari data ekonomi AS dan kebijakan suku bunga The Fed pekan ini.

Dari Level Tertinggi ke Penguatan: Dinamika Dua Sesi Terakhir

Sepanjang pekan lalu, pergerakan rupiah menunjukkan pola yang fluktuatif. Pada pembukaan Jumat pagi, kurs justru bertahan di level Rp17.748 per dolar AS, sama persis dengan penutupan hari sebelumnya. Namun, tekanan jual dolar AS muncul menjelang akhir sesi sehingga mendorong rupiah menguat signifikan.

Penguatan 54 poin pada penutupan Jumat sore menjadi modal bagi pergerakan positif di awal pekan ini. Meski demikian, apresiasi hari ini masih tipis, mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap potensi koreksi dolar AS secara global.

Faktor yang Dipantau Pelaku Pasar Pekan Ini

Pergerakan rupiah ke depan akan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan rilis pekan ini. Data tersebut akan menjadi panduan bagi bank sentral AS dalam menentukan arah suku bunga.

  • Permintaan dolar AS dari korporasi domestik untuk pembayaran impor dan dividen masih berpotensi menahan laju penguatan rupiah.
  • Kebijakan intervensi Bank Indonesia di pasar valas dan obligasi tetap menjadi pagar untuk mencegah pelemahan yang berlebihan.
  • Harga komoditas ekspor unggulan Indonesia juga akan menentukan aliran devisa ke dalam negeri.

Dengan posisi saat ini, rupiah masih berada dalam tren tertekan secara year-to-date. Namun, stabilisasi di kisaran Rp17.690-an memberikan sedikit ruang napas bagi importir untuk merencanakan pembayaran dan bagi investor untuk menghitung ulang valuasi aset.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index