Pembangunan 8 Unit Huntap Bireuen Didukung Dana Rp660 Juta

Pembangunan 8 Unit Huntap Bireuen Didukung Dana Rp660 Juta
Ilustrasi Proses pembangunan huntap [FOTO: NET].

JAKARTA - Langkah percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana di Bireuen, Provinsi Aceh, direalisasikan lewat kucuran permodalan sosial sebesar Rp660 juta guna merealisasikan pembangunan delapan unit hunian tetap (huntap).

Penyediaan infrastruktur tempat tinggal tersebut menjadi instrumen krusial untuk memulihkan stabilitas sosial sekaligus menggerakkan kembali aktivitas ekonomi warga terdampak pada tahapan rehabilitasi.

Penyaluran pembiayaan kemanusiaan ini merupakan buah kemitraan operasional antara sektor perbankan syariah, yakni Permata Bank Syariah, bersama lembaga amil zakat nasional DT Peduli. Penyerahan dokumen kerja sama strategis ini disaksikan langsung oleh tokoh ulama KH. Abdullah Gymnastiar di hadapan khalayak.

Sinergi lintas sektor ini difokuskan pada upaya konversi instrumen keuangan sosial umat menjadi bentuk aset fisik yang bermanfaat bagi para penyintas musibah kebencanaan.

Selaku mitra pelaksana proyek konstruksi di lapangan, Direktur Utama DT Peduli, Jajang Nurjaman, menegaskan kesiapan fasilitas lembaganya untuk mengawal setiap tingkatan fisik secara menyeluruh.

“Kami bertanggung jawab memastikan seluruh proses operasional pembangunan huntap di Bireuen ini mutlak memenuhi kualifikasi standar kelayakan bangunan mitigasi bencana,” tegas Jajang.

Seluruh alokasi dana tersebut bakal diproyeksikan secara presisi untuk menggaransi ketersediaan sarana rumah yang aman, bernilai tinggi, serta berkelanjutan bagi warga terdampak. Sarana hunian kemanusiaan ini dijadwalkan untuk secepatnya diserahterimakan kepada keluarga terdaftar begitu seluruh tahapan konstruksi teknis dinyatakan rampung total.

Group Head Sharia Business Unit Permata Bank, Muhammed Pinto, mengutarakan delapan unit rumah ini diproyeksikan sebagai pilar awal bagi warga Bireuen guna kembali menggerakkan kehidupan sosial serta perekonomiannya secara mandiri. Ia mengimbuhkan, realisasi program pembiayaan ini menjadi wujud komitmen perbankan dalam membagikan manfaat secara langsung ke area sasaran.

Mengenai sistem tata kelola dana sosial, Ketua UPZDK Permata Bank Syariah, Awaludin Gumbira, menyoroti krusialnya penerapan prinsip akuntabilitas manajerial secara utuh.

“Kami memastikan setiap instrumen pendanaan publik diawasi secara terukur melalui sistem audit internal guna menjamin transparansi serta standar kepatuhan syariah. Langkah manajerial ini kami terapkan secara konsisten untuk menjaga integritas penyaluran dana kemanusiaan agar terdistribusi akurat kepada daftar penerima manfaat yang terverifikasi.

Dilihat dari perspektif pengembangan ekosistem bisnis syariah, Permata Bank Syariah menganggap pelibatan lintas lembaga sangat krusial dalam merespons kondisi darurat kebencanaan. Kemitraan strategis yang terajut antarlembaga mampu memperbesar skala efektivitas dari tiap program pemulihan stabilitas wilayah pascabencana di area rawan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index