JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa peresmian fasilitas baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) kolaborasi antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) saat ini masih menanti pengaturan jadwal dari Presiden Prabowo Subianto.
Keterangan tersebut sekaligus memberikan kejelasan terkait proyek yang semula dijadwalkan bakal beroperasi serta diresmikan pada Juli 2026.
"Sudah siap diresmikan. Kita tinggal menunggu waktu yang tepat dari Bapak Presiden. Pabriknya sudah jadi, kalau teman-teman mau lihat, silakan," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM awal pekan lalu.
Fasilitas baterai hasil kolaborasi IBC-CATL ini bakal memiliki kapasitas produksi awal sebesar 6,9 gigawatt hour (GWh) setiap tahun. Pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat itu dikerjakan oleh konsorsium Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) bersama PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) serta IBC.
CBL merupakan entitas anak usaha dari CATL. Konsorsium perusahaan tersebut pun mendirikan entitas baru yang khusus mengelola pabrik baterai tersebut, yakni PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).
Menurut Bahlil, tuntasnya fasilitas tersebut menjadi tanda bertambahnya mata rantai industri baterai kendaraan listrik yang berhasil dibangun di dalam negeri.
Ia memaparkan, sebelumnya Indonesia telah memiliki pabrik baterai hasil kolaborasi dengan LG yang dibangun ketika dirinya masih menduduki jabatan sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM. Kini, pembangunan fasilitas IBC-CATL menjadi proyek baterai kedua yang terwujud setelah dirinya menjabat Menteri ESDM.
"Jadi sudah ada dua pabrik baterai yang kami bangun. Satu adalah LG di saat saya masih jadi Menteri Investasi, satu adalah CATL di saat saya sudah jadi Menteri ESDM. Ini yang disebut hilirisasi, ekosistem baterainya kami bangun semua di negara kami," tuturnya.
Dalam momen itu, Bahlil juga menekankan pemerintah terus menaruh atensi besar pada pengembangan ekosistem baterai berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC), meskipun secara global pemakaian baterai lithium iron phosphate (LFP) terus meningkat.
Baginya, baterai LFP lebih pas digunakan untuk kendaraan dengan keperluan jarak tempuh singkat. Sementara itu, baterai berbasis nikel masih memiliki keunggulan untuk kendaraan yang memerlukan daya jelajah lebih jauh.
"Kalau yang jarak-jarak pendek itu LFP biasanya. Tapi kalau yang jarak panjang itu nikel masih lebih paten," ungkapnya.
Ketua Umum Golkar itu pun meminta masyarakat tidak tergesa-gesa menyimpulkan bahwa LFP bakal sepenuhnya menggantikan NMC hanya lantaran biaya produksinya lebih terjangkau.
Ia menilai Indonesia mempunyai kepentingan strategis guna mengembangkan baterai berbasis nikel mengingat ketersediaan bahan baku yang berlimpah di dalam negeri.
"Jangan ada yang mengatakan bahwa 'Oh LFP lebih murah'. Lebih murah ya namanya barang pendek ya murahlah. Kalau barang bagus mana ada yang murah? Saya ingin ekosistem baterai mobil kami itu ada semua di Indonesia," ujarnya.
Saat ditanya perihal potensi pemerintah mengatur pemakaian teknologi baterai pada kendaraan listrik, termasuk pemberian insentif bagi kendaraan berbasis NMC, Bahlil memberi sinyal kebijakan tersebut sedang disusun.
"Ke depan akan ke sana. Tenang, kami ada formulasinya nanti. Bagian salah satu strateginya," katanya.