JAKARTA - Staf Khusus Kementerian Pariwisata Apni Jaya Putra menuturkan performa bidang pariwisata Tanah Air pada Semester I 2026 yang memperlihatkan tren positif serta dianggap sebagai isyarat kokoh bagi pengembangan ekonomi negara di tengah ketidakpastian dunia.
Apni mengungkapkan perolehan bidang pariwisata sepanjang enam bulan awal 2026 merupakan aset vital guna mempertebal keyakinan terhadap pemulihan serta pengembangan ekonomi Indonesia.
"Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pariwisata Indonesia tetap tumbuh solid di tengah berbagai tantangan global. Ini menjadi bukti bahwa pariwisata mampu menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional," kata Apni dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Berdasarkan data BPS, total kunjungan pelancong asing (wisman) pada Semester I 2026 menyentuh 7,45 juta kunjungan atau melonjak 5,71 persen dibandingkan kurun waktu yang sama tahun lalu. Sementara itu, perjalanan pelancong domestik (wisnus) menggapai 630,41 juta perjalanan atau berkembang 2,71 persen secara tahunan.
Bukan hanya total kunjungan, rata-rata pengeluaran pelancong asing pun meningkat menjadi 1.313 dolar AS per kunjungan atau naik 6,36 persen dibandingkan Semester I 2025.
Menurut Apni, kenaikan total kunjungan serta belanja pelancong memberikan pengaruh langsung terhadap aneka bidang usaha, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, hingga ekonomi kreatif.
"Semakin besar pengeluaran wisatawan, semakin besar pula multiplier effect yang dirasakan masyarakat, terutama pelaku UMKM dan industri pariwisata di daerah," ujarnya.
Apni menambahkan, tren positif tersebut juga tergambar dari meningkatnya tingkat hunian kamar penginapan. Pada Semester I 2026, tingkat okupansi hotel menggapai 48,2 persen, naik dibandingkan kurun waktu yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 45,72 persen.
"Peningkatan okupansi hotel menunjukkan aktivitas pariwisata terus bergerak. Ini menjadi indikator bahwa kepercayaan masyarakat untuk melakukan perjalanan semakin membaik," katanya.
Ia pun menilai bidang pariwisata ikut menyumbang terhadap pengembangan ekonomi negara yang pada Semester I 2026 tercatat sebesar 5,29 persen. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pengembangan ekonomi di kawasan Bali serta Nusa Tenggara yang didukung bidang pariwisata bahkan menggapai 6,1 persen.
"Capaian ini menunjukkan bahwa pariwisata bukan hanya menjadi sektor pendukung, tetapi telah menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, kami optimistis tren positif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun," ucapnya.
Ia mengharapkan kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, serta masyarakat terus dipererat supaya bidang pariwisata semakin kompetitif, sanggup memikat lebih banyak pelancong, sekaligus memberikan sumbangsih yang lebih besar terhadap pengembangan ekonomi serta penciptaan lapangan pekerjaan.
"Momentum positif ini harus terus dijaga. Dengan kolaborasi yang kuat, pariwisata Indonesia akan semakin berdaya saing dan menjadi salah satu pilar utama menuju Indonesia Emas 2045," ujar Apni.