JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa pendirian PT Tempo Chia Tai Tianqing (CTTQ) Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) oleh Tempo Scan Group bersama Sino Biopharmaceutical Limited dapat mengakselerasi kemajuan industri farmasi di dalam negeri demi mewujudkan kemandirian.
"Indonesia saat ini memiliki urgensi yang sangat tinggi dalam pengembangan industri farmasi. Kami memiliki populasi terbesar keempat di dunia. Ketika masyarakat sakit, mereka membutuhkan obat-obatan, sehingga penguatan industri farmasi menjadi kebutuhan yang sangat mendesak," ujar Kepala BPOM, Taruna Ikrar di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Ia memaparkan bahwa kurang lebih 90 persen produk farmasi yang berbasis sintesis kimia masih didatangkan dari luar negeri.
Sementara itu, untuk produk biologis termasuk biosimilar, ketergantungan terhadap impor bahkan mencapai hampir 100 persen.
Oleh sebab itu, BPOM menyambut positif langkah investasi dari kedua belah pihak dalam memproduksi beragam terapi biologis, khususnya untuk penanganan kanker dan diabetes yang permintaannya kian melonjak di tanah air.
"Melihat target obat-obatan yang akan dikembangkan melalui joint venture ini luar biasa. Ini sangat membantu masyarakat, terutama untuk terapi kanker dan diabetes yang masih didominasi produk impor," katanya.
Di sisi lain, BPOM berkomitmen untuk terus mengoptimalkan perannya demi memajukan sektor industri farmasi nasional, terutama di bidang biofarmasi. Langkah ini ditempuh lewat penerapan regulasi yang tepercaya, akselerasi inovasi, serta penyediaan iklim investasi yang mendukung.
Taruna mengimbuhkan bahwa peran BPOM tidak terbatas pada pengawasan semata, melainkan juga menyusun ekosistem regulasi yang mempercepat lahirnya inovasi sekaligus mendongkrak daya saing industri farmasi domestik.
Upaya ini kian solid seiring keberhasilan BPOM meraih status WHO-Listed Authority (WLA), yang menyejajarkan otoritas regulator obat Indonesia dengan jajaran terbaik di tingkat global.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menilai bahwa pembentukan TCBI ialah sebuah keputusan strategis yang sejalan dengan program pemerintah untuk mewujudkan ketahanan industri farmasi nasional.
Bagi Airlangga, situasi krisis selama pandemi COVID-19 menjadi pelajaran berharga bahwa kapasitas untuk memproduksi obat dan vaksin secara mandiri merupakan pilar krusial bagi ketahanan negara.
"Joint venture ini tepat waktu, karena Bapak Presiden selalu mengharapkan kami memiliki kemandirian di sektor obat. Pengalaman pandemi membuktikan bahwa setiap negara lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya. Karena itu, Indonesia harus memiliki kemampuan memproduksi obat sendiri," kata Airlangga.
Ia menambahkan bahwa Indonesia menyimpan potensi pasar biofarmasi yang sangat luas, mencakup terapi onkologi, pengobatan penyakit hati, diabetes, gangguan pernapasan, antiinfeksi, hingga produk bioteknologi seperti monoclonal antibody, biosimilar, serta protein rekombinan.
"Harapannya, melalui kerja sama ini masyarakat dapat memperoleh obat-obatan biologis dengan harga yang lebih terjangkau, sehingga kesehatan tidak menjadi barang mewah, tetapi menjadi kebutuhan yang dapat diakses seluruh masyarakat," katanya.
Sementara itu, Executive Chairman & Co-Founder Tempo Scan Group, Handojo S. Muljadi menegaskan bahwa pendirian TCBI dirancang sebagai investasi jangka panjang guna mematangkan industri biofarmasi domestik, bukan sekadar untuk ekspansi pasar belaka.
Ia menguraikan bahwa TCBI dibangun dengan sistem joint venture, di mana Sino Biopharmaceutical memegang 51 persen saham dan Tempo Scan menguasai 49 persen sisanya.
Skema ini sengaja diterapkan karena mendukung keberlanjutan investasi jangka panjang, proses transfer teknologi, serta penguatan basis produksi di dalam negeri.
Pada langkah awal, TCBI bakal berfokus pada agenda komersialisasi produk, penetrasi pasar, pemenuhan aspek regulasi, serta pelaksanaan uji klinis di tanah air.
Selanjutnya, perusahaan secara bertahap akan melangsungkan alih teknologi dan mengoptimalkan fasilitas pabrik milik Tempo Scan untuk memproduksi obat-obatan biologis secara mandiri di Indonesia.
"Tujuan kami bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi menjadikan Indonesia sebagai bagian dari global value chain industri farmasi," katanya.