Kemhan Lirik Helikopter AW149 untuk Perkuat TNI AL

Kemhan Lirik Helikopter AW149 untuk Perkuat TNI AL
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, (Foto: NET)

JAKARTA - Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI sedang menjalin kemitraan dengan Leonardo, produsen alutsista asal Italia, guna mendatangkan helikopter AW149. 

Langkah ini diambil demi memperkokoh armada Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), khususnya pada lini Pusat Penerbang Angkatan Laut (Puspenerbal).

Menilik informasi dari laman resmi leonardo.com, AW149 ialah helikopter multiperan model mutakhir buatan pabrikan tersebut. 

Armada terbang ini dirancang untuk menunjang beragam operasi tempur, seperti mobilisasi maupun infiltrasi prajurit, hingga kebutuhan penyelamatan serta evakuasi medis (SAR). 

Ruang kabin helikopter ini terbilang lapang tanpa pembatas dan ditunjang pintu geser pada kedua sisinya, sehingga sanggup memuat hingga 19 personel beserta kelengkapan tempur mereka.

Alutsista berbobot kotor 8,6 ton ini menawarkan dua opsi dapur pacu. Konsumen dapat menentukan opsi sepasang mesin General Electric CT7-2E1 dengan 1 x Safran e-APU (60 kW), atau opsi sepasang Safran Aneto-1K bersama 1 x Safran e-APU (60 kW). 

Secara fisik, AW149 membentang dengan tinggi mencapai 5,07 meter serta bentangan diameter baling-baling sejauh 14,60 meter.

Dengan berat delapan ton tersebut, armada udara ini sanggup mengangkasa hingga ketinggian maksimal 6 kilometer dan melesat hingga kecepatan tertinggi 306 kilometer per jam. 

Bukan hanya itu, jarak tempuh terjauhnya bisa menyentuh angka 954 kilometer. Mesin yang tertanam pada AW149 juga sanggup beroperasi secara nonstop paling lama 4 jam 10 menit, dengan menyesuaikan situasi cuaca serta volume bahan bakar.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait ketika dimintai keterangan di Jakarta, Kamis menyampaikan bahwa jalinan kerja sama antara pihak Kemhan dan Leonardo terkait pengadaan helikopter AW149 saat ini baru memasuki fase penandatanganan Letter of Intent (LoI).

"Saat ini yang telah ditandatangani adalah Letter of Intent sebagai bagian dari tahapan penjajakan kerja sama," kata Rico.

Rico memaparkan bahwa klausul di dalam LoI tersebut tidak melulu mengenai transaksi pembelian, melainkan mencakup pula aspek penyiapan sokongan teknis, perawatan berkala, program pelatihan, hingga eskalasi kapabilitas industri pertahanan domestik. 

Namun demikian, Rico masih belum dapat menjabarkan secara mendetail perihal tenggat waktu realisasi pembelian helikopter tersebut.

Rico pun belum bersedia membeberkan total unit helikopter yang bakal dipesan. Ketika ditanya mengenai kemungkinan helikopter itu disiapkan untuk dioperasikan di atas dek kapal induk Giuseppe Garibaldi milik Indonesia, Rico tidak memberikan tanggapan.

"Pada prinsipnya, setiap pengadaan alutsista dilaksanakan dengan mempertimbangkan kesesuaian terhadap kebutuhan operasional TNI, keunggulan teknologi, dukungan logistik dan pemeliharaan sepanjang siklus hidup alutsista serta peluang pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan industri pertahanan nasional," ucap dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index