JAKARTA – Tantangan utama dalam menjalankan bisnis ekspor bagi PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) sepanjang tahun 2026 tetap datang dari ketidakpastian perdagangan global.
Walaupun produk komponen bangunan milik perseroan terbebas dari tarif impor Amerika Serikat, sentimen pasar dirasa masih membayangi tingkat permintaan dari para pembeli.
Investor Relations PT Integra Indocabinet Tbk Ravenal Arvense menjelaskan bahwa kebijakan tarif Amerika Serikat menimbulkan ketidakpastian yang memicu sebagian pelanggan menjadi lebih waspada dalam menetapkan keputusan pembelian.
“Kebijakan tarif Amerika Serikat telah menciptakan ketidakpastian yang mempengaruhi bisnis ekspor, terutama melalui pelemahan sentimen pelanggan yang berdampak pada permintaan,” ujar Ravenal ,Rabu (22/7/2026).
Situasi ini kemudian mendorong perseroan untuk mempercepat langkah diversifikasi pasar ekspor agar tidak bertumpu pada satu wilayah tujuan saja.
Saat ini, WOOD tengah memperluas jangkauan pemasaran ke benua Eropa lewat produk lantai kayu (flooring) dan furnitur luar ruangan (outdoor furniture).
Upaya tersebut mulai membuahkan hasil manis dengan lonjakan penjualan ke Eropa sebesar 654% secara tahunan selama 2025, dan kembali melejit hingga 2.133% secara tahunan pada kuartal pertama tahun 2026.
Bukan cuma ekspansi pasar, perusahaan berkode saham WOOD ini juga mengandalkan produk komponen bangunan berbahan dasar kayu, seperti triplek dan kusen.
Hingga kuartal pertama 2026, lini produk ini masih mendominasi pendapatan sebagai penyumbang terbesar penjualan dengan porsi mencapai 87% dari total omzet.
Pada sektor furnitur, Ravenal menganggap permintaan untuk produk furnitur utuh (fully assembled furniture) jauh lebih kokoh ketimbang furnitur bongkar pasang (knockdown furniture), sebab menyasar segmen konsumen menengah ke atas yang dinilai lebih kebal terhadap penurunan daya beli.
Di samping itu, WOOD juga terus mengawasi fluktuasi biaya logistik serta dinamika rantai pasok global demi memastikan operasional berjalan lancar.
“Tantangan utama yang dihadapi Perseroan saat ini adalah ketidakpastian perdagangan global yang mempengaruhi sentimen pelanggan dan permintaan ekspor,” katanya.
Kendati demikian, Ravenal melihat Indonesia masih mempunyai keunggulan kompetitif jika disandingkan dengan negara produsen lain seperti Vietnam maupun China.
Keunggulan tersebut ditopang oleh melimpahnya ketersediaan bahan baku kayu, sistem operasional yang terintegrasi secara penuh dari hulu sampai hilir, serta tarif impor produk Indonesia menuju Amerika Serikat yang saat ini posisinya lebih rendah daripada Vietnam dan China.
“Kondisi tersebut membuka peluang bagi Perseroan untuk meningkatkan penetrasi di pasar ekspor, seiring dengan strategi diversifikasi pasar dan pengembangan portofolio produk yang terus dijalankan,” pungkas Ravenal.